Blitar, rakyatindonesia.com - Seorang maling di Dusun Brintik, Desa Suru, Doko, Kabupaten Blitar ditangkap warga saat membawa motor curiannya. Sementara satu pelaku lainnya berhasil kabur.
(red.alz)
(red.alz)
Blitar, rakyatindonesia.com – Sri Juanah (70) ternyata masih hidup sebelum dibuang di tepi sungai Dusun Talok, Desa Pojok, Garum, Blitar oleh suaminya, Santoso (73). Hal itu diungkapkan oleh Santoso yang kini telah menjadi tersangka.
"Saya buang ke sungai masih hidup. Pakai arko (alat pembawa barang). Saya juga tidak sempat ibadah, langsung pergi," kata Santoso dengan suara bergetar saat dihadirkan dalam pres rilis di Mapolres Blitar, Rabu (8/11/2023).
Santoso mengatakan sengaja membuang korban yang dalam kondisi lemas di sungai agar tak diketahui orang. Meskipun korban yang tak lain adalah istrinya itu masih dalam keadaan hidup.
Pria berperawakan kurus itu mengaku nekat menganiaya istrinya karena cemburu. Dia berdalih sang istri berselingkuh dengan pria lain dan tidak mau mengakuinya. Hingga akhirnya keduanya cekcok berujung pemukulan terhadap Juanah.
"Dia (Sri Juanah) itu kan selingkuh tapi tidak mau mengakui. Kami cekcok, dan omongannya keras kepada saya. Ada kekhilafan pada diri saya, akhirnya saya memukul istri pakai besi untuk mencabut paku," ujarnya.
Sebelumnya, Santoso (73) warga Dusun Talok, Desa Pojok, Garum, Kabupaten Blitar gelap mata hingga tega menganiaya istrinya, Sri Juanah (70) hingga tewas. Santoso berdalih cemburu dengan istrinya yang dituduhnya berselingkuh.
"Untuk motifnya asmara. Tersangka menduga korban ada perselingkuhan. Kemudian tersangka cemburu buta dan penganiayaan (berujung tewas)," jelas Kasat Reskrim Polres Blitar AKP Febby Pahlevi Rizal. (red.IY)
Blitar, rakyatindonesia.com – Babinsa Koramil 0808/09 Sutojayan Kodim 0808/Blitar Serka Dwijo Seputro bersama warga masyarakat, melaksanakan kegiatan gotong royong rehab Polindes, bertempat di RT. 03 RW. 02 Lingk. Jegu Kel. Jegu Kec Sutojayan Kab. Blitar, Rabu (18/10/2023).
Danramil 0808/09 Sutojayan Kapten Cba Yudi Antonik, S.E., mengatakan, kegiatan gotong royong yang dilaksanakan secara bersama sama ini, merupakan upaya kolaborasi antara Babinsa bersama warga masyarakat setempat.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperbaiki kondisi Polindes yang mengalami kerusakan dan memberikan fasilitas yang lebih layak untuk pelayanan kesehatan bagi warga masyarakat. Dengan adanya kegiatan gotong royong ini, diharapkan pengerjaan rehab Polindes segera selesai.
Serta dapat berfungsi lagi secara optimal dan menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk warga masyarakat, terutama dalam hal persalinan serta kesehatan ibu dan anak.
Kapten Cba Yudi Antonik, S.E., tidak lupa menyampaikan apresiasi kepada warga masyarakat yang telah berpartisipasi aktif dan bergotong royong dalam kegiatan rehab Polindes ini.
Kolaborasi ini tidak hanya memperbaiki infrastruktur Polindes saja, tetapi juga membangun kekompakan yang lebih baik lagi antara Babinsa bersama warga masyarakat di lapangan, sekaligus untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan sehat. Ia berharap semangat gotong royong ini, dapat terus dijaga dan ditingkatkan dalam kegiatan kedepan.
Dan semoga kegiatan gotong royong bersama ini, juga dapat menjadi inspirasi bagi warga masyarakat lainnya, untuk peduli dan bekerja sama dalam membangun lingkungan yang lebih baik, pungkasnya (red.tim)
Blitar, rakyatindonesia.com - Setelah dua pekan kosong, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Blitar, akhirnya mendapatkan pasokan blangko e-KTP. Sayang, jumlahnya hanya 2 ribu keping alias tidak cukup untuk memenuhi permintaan KTP elektronik di Kabupaten BLitar.
Kepala Bidang Pencatatan Sipil Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Blitar, Adi Sulaksono mengatakan, saat ini sudah ada blangko e-KTP. Ada 2 ribu keping yang belum lama ini diambil oleh tim administrasi manajemen (admen) dari Jakarta.
“Ya, kami hanya mendapatkan 2 ribu keping saja. Ribuan keping itu dimaksimalkan dulu. Bila sudah habis, kami akan ke Jakarta untuk ambil lagi. Agar pencetakan e-KTP bisa segera terlayani hingga secukupnya,” ujar Adi saat ditemui.
Ribuan keping yang telah diambil ini digunakan untuk percetakan e-KTP yang sudah diajukan. Selain itu juga untuk melayani pengajuan e-KTP yang statusnya sudah print ready record (PRR) atau masuk dalam daftar tunggu (waiting list).
Dispendukcapil pun memprediksi 2 ribu keping hanya akan cukup untuk proses pencetakan e-KTP dalam satu pekan ini saja. Maka dari itu, Dispendukcapil Kabupaten Blitar kembali bersiap mengirim tim admen ke Jakarta untuk mengambil blangko e-KTP.
“Namun untuk jumlah pastinya tergantung pengadaan dari pihak Dirjen Dukcapil. Rata-rata tiap kami ambil ke Jakarta itu 2 ribu keping. Hal itu tidak menjadi masalah jika setiap kali ambil keping sudah disediakan oleh pusat,” ungkapnya.
Jadwal untuk mengambil pasokan blangko e-KTP ke pusat ini belum bisa dipastikan. Itu tergantung kebutuhan perekaman e-KTP. Jika kebutuhan banyak dan stok menipis, seminggu sekali mengambil blangko ke Jakarta. Namun bila stoknya banyak, dimungkinkan dua minggu hingga sebulan sekali pengambilan ke pusat.
Jauh sebelum terjadi kelangkaan selama beberapa bulan terakhir ini, Dispendukcapil Kabupaten Blitar pernah menerima 20 ribu keping blangko e-KTP dari pusat. Namun lambat laun jatah dari pusat menyusut. Akibatnya, kelangkaan blangko e-KTP pun sering terjadi di Bumi Bung Karno.
“Syukurnya untuk sementara ini tidak ada kendala dalam perekaman e-KTP. Namun, kami berharap stok blangko e-KTP dari pusat bisa melimpah dan cukup untuk kebutuhan masyarakat Kabupaten Blitar,” tutupnya. (red.IY)
Blitar, soearatimoer.net - Api yang berkobar dan membakar pabrik egg tray di Desa Tlumpu Kecamatan Sukorejo Kota Blitar terlihat dari jarak 1 Kilometer.
Kobaran api dan kepulan asap pekat yang membumbung tinggi di atas pabrik terlihat oleh penghuni rusunawa yang berjarak 1 kilometer dari lokasi kejadian.
Blitar, rakyatindonesia.com - Hutan seluas 11.610 hektar di wilayah Blitar kini telah beralih fungsi menjadi lahan tebu liar. Selain merusak lingkungan, akibat alih fungsi lahan tersebut negara diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp38 miliar.
Para penggarap lahan tebu liar ini bukan hanya masyarakat kecil. Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blitar justru mendapati banyak “sultan” yang mengeruk manisnya cuan dari lahan tebu liar.
Para “sultan” tersebut rata-rata menguasai lahan tebu liar lebih dari 10 hektar, bahkan ada mencapai 50 hektar. Pendapatan ratusan juta rupiah pun tentu jadi barang pasti, jika penguasaan lahan tebu liar tersebut mencapai puluhan hektar.
“Kenapa saya sebut “sultan” karena itu merupakan penggarap dan penikmat yang penguasaannya cukup signifikan, minim di atas 10 hektar itu kan sudah “sultan” itu, bisa dibayangkan itu kalau hasilnya, jelek-jeleknya, adalah Rp20 juta maka di situ kan sudah Rp200 juta,” kata Administratur Perum Perhutani KPH Blitar, Muklisin, Rabu (02/08/023)
Berbagai siasat pun dilakukan oleh para “sultan” tersebut agar puluhan hektar lahan tebu liarnya tidak terendus Perhutani. Salah satunya mengatasnamakan lahan tebu liarnya dengan identitas orang lain.
Namun, siasat itu tetap terendus oleh Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blitar. Perhutani Blitar pun mengaku telah mengantongi jumlah serta identitas dari para “sultan” tersebut, tetapi belum bisa diungkap saat ini.
“Saat kami lakukan identifikasi ke lapangan mereka berusaha menutupi dengan nama orang lain namun tetap pemiliknya adalah para “sultan” itu, data kami ada tapi nggak perlu diungkapkan juga, tunggu saja dulu,” ungkapnya.
Tanaman tebu yang ada di lahan Perhutani Blitar sebetulnya tidak semuanya liar. Tercatat sejauh ini ada sekitar 3.000 lahan tebu yang sudah melakukan kerjasama dengan Perhutani Blitar.
Namun sayangnya, pendapatan yang diperoleh dari 3.000 lahan tebu itu juga jauh dari kata maksimal. Total dari 3.000 hektar lahan tebu, negara hanya memperoleh pendapatan kurang dari Rp500 juta.
Hal itu pun semakin ironi jika melihat kerugian negara akibat lahan tebu liar yang mencapai Rp38 miliar.
“Ternyata yang baru ada kerjasamanya itu sekitar 3000 hektar, bisa dibayangkan dari 3000 itupun sangat tidak sebanding dengan nilai yang diperoleh, artinya kecil banget, karena hanya sekitar Rp400 sekian juta,” tutupnya.
Atas dasar itulah maka Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blitar akan menggandeng Kejaksaan Negeri Blitar untuk melakukan penertiban tebu liar. Diharapkan dengan begitu dampak kerusakan lingkungan bisa diminimalisir dan pendapatan negara dari kerjasama tersebut bisa meningkat.
FOLLOW THE Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram