Health

Ads

News

Politik

Daerah

Video

Saturday, July 4, 2026

Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo Ajukan Praperadilan atas Status Tersangka

 
(foto by detikjatim)

 

JAKARTA – Roy Suryo kembali menempuh jalur praperadilan, kali ini untuk menggugat penetapan dirinya sebagai tersangka dalam kasus dugaan fitnah terkait ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Gugatan tersebut telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Menanggapi langkah hukum itu, Polda Metro Jaya menyatakan siap menghadapi proses persidangan. Kabidkum Polda Metro Jaya Kombes Abrianto Pardede mengatakan praperadilan merupakan hak setiap warga negara yang merasa dirugikan atau haknya dilanggar dalam proses penegakan hukum.

Meski demikian, Abrianto mengaku pihaknya hingga kini belum menerima salinan resmi gugatan tersebut. Ia memastikan Bidkum Polda Metro Jaya akan hadir dan mengikuti seluruh tahapan persidangan setelah dokumen diterima.

Berdasarkan data Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, gugatan Roy Suryo terdaftar dengan nomor perkara 108/Pid.Pra/2026/PN JKT.SEL sejak Kamis (2/7/2026). Objek gugatan berkaitan dengan sah atau tidaknya penetapan status tersangka terhadap dirinya.

Sidang perdana dijadwalkan berlangsung pada Jumat (10/7/2026) dengan agenda pembacaan permohonan. Hingga kini, isi petitum atau tuntutan dalam permohonan praperadilan tersebut belum ditampilkan dalam laman SIPP.

Sebelumnya, Roy Suryo juga telah mengajukan praperadilan lain yang menggugat keabsahan tindakan penggeledahan oleh penyidik. Permohonan yang terdaftar dengan nomor perkara 99/Pid.Pra/2026/PN JKT.SEL itu saat ini telah memasuki tahap akhir persidangan.

Hakim tunggal I Ketut Darpawan dijadwalkan membacakan putusan atas gugatan praperadilan terkait penggeledahan tersebut pada Selasa (7/7/2026). 

(red/hep)

Tabrakan dengan Truk Fuso, Bus Sugeng Rahayu Terjun ke Sungai di Nganjuk

Bus Sugeng Rahayu terbalik masuk sungai di Bagor, Nganjuk. Belasan penumpang dievakuasi. (Foto:detikJatim)


NGANJUK – Sebuah bus Sugeng Rahayu mengalami kecelakaan hingga terguling dan masuk ke aliran sungai di Desa Kandangrejo, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 12.30 WIB.

Peristiwa tersebut melibatkan sebuah truk Fuso bernomor polisi S 9687 UR. Hingga sekitar pukul 13.52 WIB, petugas masih melakukan proses evakuasi terhadap kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan.

Seorang warga setempat, Dito, mengatakan terdapat belasan penumpang di dalam bus saat insiden terjadi. Seluruh korban berhasil dievakuasi, dan berdasarkan informasi sementara tidak ada korban jiwa.

Para penumpang yang mengalami luka-luka langsung dilarikan ke RS Bhayangkara dan RSUD Nganjuk untuk mendapatkan perawatan medis.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Nganjuk Ipda Wahby Irfan Izzudin mengatakan pihak kepolisian masih menangani kasus tersebut. Petugas telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara, pendataan korban, serta penyelidikan guna mengetahui penyebab pasti kecelakaan.

Sementara itu, proses evakuasi kendaraan masih terus dilakukan. Peristiwa ini juga menarik perhatian warga sekitar yang memadati lokasi untuk menyaksikan kejadian dan merekam proses evakuasi menggunakan telepon genggam. Aparat kepolisian dan personel TNI tampak berjaga di lokasi guna mengamankan area selama penanganan berlangsung. (red/hep)

Friday, July 3, 2026

Dinkes Sampang Temukan 18 Kasus Baru HIV/AIDS, Dorong Perubahan Pola Hidup Sehat

KESEHATAN: Abd. Cholik saat ditemui di kantor Dinkes KB Sampang (photo by radar madura)



SAMPANG- Pola hidup masyarakat Kabupaten Sampang dinilai masih perlu diperbaiki agar lebih sehat dan aman. Hal ini menyusul ditemukannya belasan warga yang terkonfirmasi positif HIV/AIDS dalam hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Sampang.

Fungsional Penanggung Jawab Penyakit Menular Dinkes KB Sampang, Abd. Cholik, menjelaskan bahwa penyebaran HIV/AIDS di wilayah tersebut masih berkaitan erat dengan perilaku berisiko, terutama kurangnya kesadaran dalam menerapkan hubungan yang aman dan setia pada pasangan.

Menurutnya, salah satu faktor utama penularan adalah perilaku berganti-ganti pasangan yang tidak dilakukan secara aman. Ia menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menghindari perilaku seksual berisiko demi menekan angka penularan.

Dari total 20.285 warga yang menjadi target pemeriksaan tahun ini, hingga semester pertama baru 8.935 orang yang telah menjalani tes HIV. Dari jumlah tersebut, ditemukan 18 kasus baru yang dinyatakan positif terinfeksi HIV.

“Untuk tahun ini, terdapat 18 kasus baru. Namun jika dibandingkan tahun sebelumnya, ada penurunan jumlah kasus,” ungkap Abd. Cholik.

Ia menambahkan, pada tahun 2025 total kasus HIV di Kabupaten Sampang tercatat mencapai 72 orang, dengan mayoritas penderita berada pada usia produktif. Meski demikian, pihaknya optimistis angka kasus dapat ditekan melalui peningkatan edukasi dan pemeriksaan dini.

Dinkes KB Sampang juga memperluas cakupan pemeriksaan kepada berbagai kelompok sasaran, seperti ibu hamil, penderita tuberkulosis (TBC), calon pengantin, kelompok rentan seperti waria, hingga warga binaan lembaga pemasyarakatan. Namun, ia mengakui bahwa pendataan pada beberapa kelompok masih menghadapi kendala, termasuk keterbatasan data di lapangan.

Untuk mendukung upaya deteksi dini, pemerintah daerah juga mengoptimalkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di berbagai fasilitas kesehatan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secara sukarela.

“Tahun lalu capaian testing mencapai 75 persen. Tahun ini kami optimistis bisa lebih tinggi karena kesadaran masyarakat mulai meningkat,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Dokter Umum Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Puskesmas Omben, Elmira Rizkia F., mengungkapkan bahwa di wilayahnya terdapat enam pasien yang dinyatakan positif HIV. Salah satunya bahkan merupakan anak-anak dan telah dirujuk ke RSUD dr. Mohammad Zyn untuk penanganan lebih lanjut.

Ia juga menyampaikan bahwa saat ini Puskesmas Omben belum dapat melakukan pengobatan mandiri bagi pasien HIV karena tenaga kesehatan belum mendapatkan pelatihan khusus dari Dinkes KB Sampang.

“Kami berharap ke depan Puskesmas Omben bisa memberikan layanan pengobatan dan terapi bagi pasien HIV, termasuk untuk wilayah di luar Kecamatan Omben,” ujarnya.

Pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan terus mendorong peningkatan layanan, edukasi, serta pemeriksaan dini agar penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Sampang dapat ditekan dan tertangani secara lebih optimal.(red/lis)


Thursday, July 2, 2026

Doom Spending Meningkat di Era Digital, Waspadai Dampaknya pada Keuangan

ILUSTRASI Doom spending membuat pengeluaran semakin banyak. (photo by radar malang)


MALANG- Istilah doom spending belakangan semakin sering menjadi perbincangan, terutama di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan finansial. Fenomena ini menggambarkan kebiasaan berbelanja secara impulsif sebagai bentuk pelarian dari stres, kecemasan, rasa takut, atau tekanan yang muncul akibat situasi yang penuh ketidakpastian. Dalam kondisi tersebut, seseorang cenderung melakukan pembelian bukan karena benar-benar membutuhkan suatu barang, melainkan untuk memperoleh rasa nyaman, mengurangi beban pikiran, atau memperbaiki suasana hati untuk sementara waktu.

Perilaku ini semakin mudah terjadi di era digital. Beragam platform belanja daring menawarkan pengalaman bertransaksi yang cepat dan praktis melalui berbagai promo menarik, potongan harga, gratis ongkos kirim, hingga metode pembayaran yang semakin beragam, termasuk layanan buy now, pay later (BNPL) atau pembayaran secara cicilan. Kemudahan tersebut membuat seseorang dapat menyelesaikan transaksi hanya dalam beberapa menit tanpa memiliki cukup waktu untuk mempertimbangkan apakah barang yang dibeli memang benar-benar diperlukan.

Di sisi lain, media sosial juga turut memperkuat munculnya doom spending. Paparan konten mengenai gaya hidup, tren produk terbaru, ulasan dari influencer, hingga promosi yang muncul secara berulang dapat memicu keinginan untuk terus berbelanja. Ketika seseorang sedang mengalami tekanan emosional, dorongan tersebut menjadi semakin sulit dikendalikan sehingga keputusan pembelian lebih didasarkan pada emosi dibandingkan pertimbangan rasional.

Meskipun aktivitas berbelanja dapat memberikan rasa senang dalam waktu singkat, efek tersebut umumnya hanya bersifat sementara. Setelah euforia pembelian mereda, tidak sedikit orang yang justru merasakan penyesalan karena telah mengeluarkan uang untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Jika kebiasaan ini terus berulang, pengeluaran akan semakin membengkak, anggaran bulanan menjadi tidak terkendali, tabungan berkurang, bahkan dapat memicu ketergantungan pada fasilitas kredit atau layanan pembayaran berbasis utang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas keuangan serta meningkatkan tekanan psikologis akibat beban finansial yang terus bertambah.

Para ahli mengategorikan doom spending sebagai bagian dari emotional spending, yaitu perilaku menggunakan uang sebagai cara untuk meredakan emosi negatif. Oleh karena itu, upaya mengatasi kebiasaan ini tidak cukup hanya dengan membatasi frekuensi berbelanja atau menghapus aplikasi belanja dari ponsel. Langkah yang lebih penting adalah mengenali sumber stres yang menjadi pemicu munculnya keinginan berbelanja secara impulsif. Setelah mengetahui penyebabnya, seseorang dapat mencari alternatif yang lebih sehat untuk mengelola emosi, seperti berolahraga, menjalankan hobi, bermeditasi, menulis jurnal, menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman, hingga berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila tekanan emosional dirasakan cukup berat.

Selain itu, membangun kebiasaan mengelola keuangan secara disiplin juga menjadi salah satu cara efektif untuk mencegah doom spending. Menyusun anggaran bulanan, membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja, menetapkan batas pengeluaran, serta memberi jeda waktu sebelum memutuskan membeli suatu barang dapat membantu mengurangi pembelian impulsif. Kebiasaan sederhana tersebut mampu melatih seseorang agar lebih bijak dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih diwarnai berbagai tantangan, menjaga kesehatan finansial menjadi semakin penting. Memahami penyebab dan dampak doom spending dapat membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan yang lebih rasional dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, kondisi finansial yang sehat tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi, mengelola pengeluaran secara bijaksana, serta tetap disiplin dalam menghadapi berbagai tekanan hidup yang dapat memengaruhi perilaku konsumsi.(red/lis)

Pengembangan Kasus 5.000 Butir Ekstasi Berujung Penangkapan Operator Jaringan di Situbondo

Kondisi RD yang terkapar usai melompat pagar ketika hendak diringkus tim dari Dirreskoba Polda Kepri.(photo by memorandum co.id)



SITUBONDO-
Tim Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kepulauan Riau (Kepri) berhasil menangkap seorang pria berinisial RD (35), yang diduga berperan sebagai operator utama jaringan peredaran narkotika jenis ekstasi. Penangkapan dilakukan di rumah istrinya yang berada di Desa Pokaan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Rabu, 1 Juli 2026.

Penangkapan tersebut merupakan hasil pengembangan dari pengungkapan kasus peredaran 5.000 butir ekstasi yang sebelumnya berhasil digagalkan aparat di wilayah Kepulauan Riau. Berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan dari kurir yang lebih dahulu diamankan, RD diduga menjadi sosok yang mengendalikan distribusi ribuan butir ekstasi tersebut.

Saat petugas melakukan penggerebekan di rumah tempat RD bersembunyi, tersangka sempat melakukan perlawanan dengan berupaya melarikan diri. Meski kedua tangannya sudah dalam kondisi diborgol, RD nekat melompati pagar rumah untuk menghindari penangkapan. Namun upaya tersebut justru berakhir nahas. Ia terjatuh di area persawahan yang berada di belakang rumah dan mengalami patah tulang pada kaki kanannya.

Peristiwa itu sempat direkam warga dan videonya kemudian beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, RD tampak tergeletak di tengah areal persawahan dengan kondisi tidak berdaya setelah gagal melarikan diri dari kejaran petugas.

Akibat cedera yang dialaminya, RD langsung dilarikan ke salah satu rumah sakit di Kota Situbondo untuk mendapatkan perawatan intensif. Selama menjalani perawatan, tersangka tetap berada di bawah pengawasan ketat aparat kepolisian guna mengantisipasi kemungkinan upaya pelarian maupun gangguan terhadap proses penyidikan.

Salah seorang warga Desa Pokaan, Antok, mengaku terkejut mengetahui RD ditangkap dalam kasus narkotika. Menurutnya, RD merupakan pendatang asal Kepulauan Riau yang baru sekitar dua tahun menikah dengan seorang perempuan setempat bernama Indah.

"RD baru sekitar dua tahun menikah dengan Indah, warga Desa Pokaan. Dalam waktu yang relatif singkat, dia sudah mampu membangun rumah mewah berlantai dua di desa ini," ujar Antok.

Sementara itu, Kasatresnarkoba Polres Situbondo, Iptu Tatang Purwohadi, membenarkan adanya operasi penangkapan tersebut. Ia menjelaskan bahwa Satresnarkoba Polres Situbondo hanya bertugas sebagai tim pendamping lapangan untuk membantu penyidik Ditresnarkoba Polda Kepulauan Riau selama proses penangkapan berlangsung.

Menurut Tatang, hasil penggeledahan di rumah istri tersangka tidak menemukan barang bukti berupa sabu maupun pil ekstasi. Meski demikian, penangkapan tetap dilakukan karena penyidik telah mengantongi bukti berupa hasil pengembangan penyidikan dan manifes pengiriman yang mengarah kepada keterlibatan RD sebagai operator jaringan.

"Dari hasil pemeriksaan terhadap kurir yang telah diamankan sebelumnya di Polda Kepri, diketahui bahwa sebanyak 5.000 butir ekstasi yang disita dikendalikan langsung oleh RD. Berdasarkan alat bukti tersebut, tim kemudian melacak keberadaan tersangka hingga akhirnya ditemukan di Situbondo," terang Iptu Tatang.

Ia menambahkan, untuk sementara proses pemeriksaan terhadap RD belum dapat dilakukan secara maksimal karena kondisi kesehatannya masih belum stabil akibat patah tulang yang dideritanya. Penyidik akan melanjutkan pemeriksaan setelah tim medis menyatakan tersangka cukup sehat untuk dimintai keterangan.

Lebih lanjut, pihak kepolisian memastikan selama berada di Kabupaten Situbondo, RD tidak pernah terdeteksi menjalankan aktivitas peredaran narkotika di wilayah hukum setempat. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, keberadaan tersangka di Desa Pokaan diduga hanya untuk bersembunyi dari kejaran aparat setelah jaringan yang dikendalikannya mulai terungkap.

Polisi masih terus mengembangkan kasus ini untuk mengungkap kemungkinan adanya anggota jaringan lain yang terlibat dalam peredaran ribuan butir ekstasi tersebut serta menelusuri alur distribusi narkotika yang diduga mencakup lintas daerah.(red/lis)

Wednesday, July 1, 2026

Nyaris Ludes! Api Mengamuk di PR Gudang Rasa, Gudang Tembakau Rp250 Juta Berhasil Diselamatkan

  

petugas saat melakukan pemadaman si jago merah yang mengamuk. ((photo by radar kediri)



KEDIRI – Kebakaran nyaris meludeskan bangunan Pabrik Rokok (PR) Gudang Rasa yang berada di Dusun Sumberagung, Desa Srikaton, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Selasa (30/6/2026) dini hari. Beruntung, kobaran api cepat diketahui warga sehingga petugas pemadam kebakaran dapat segera melakukan penanganan dan berhasil mencegah api merembet ke gudang penyimpanan tembakau maupun area produksi.

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh seorang warga yang sedang melintas di sekitar lokasi sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu, saksi melihat kobaran api disertai kepulan asap muncul dari bagian atap bangunan pabrik rokok. Menyadari besarnya potensi bahaya, warga langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran.

Laporan kebakaran diterima Pos Pemadam Kebakaran Ngadiluwih sekitar pukul 01.35 WIB. Tak berselang lama, satu unit armada beserta personel Damkar Kabupaten Kediri Pos Ngadiluwih diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman.

Sesampainya di lokasi, petugas segera melakukan upaya pemadaman sekaligus pendinginan agar api tidak kembali menyala. Berkat respons cepat petugas dibantu warga sekitar, kobaran api berhasil dikendalikan sebelum menjalar ke bangunan lain yang berada di kompleks pabrik. Proses penanganan berlangsung selama kurang lebih dua jam dan dinyatakan selesai sekitar pukul 03.40 WIB.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kediri, Kaleb Untung Satrio Wicaksono, mengatakan dugaan sementara penyebab kebakaran berasal dari korsleting listrik pada salah satu stopkontak di ruang pengepakan rokok. Percikan api kemudian membakar material di sekitarnya dan merambat hingga ke bagian atas bangunan.

"Petugas segera melakukan pemadaman sesuai prosedur sehingga api berhasil dikendalikan dan tidak sampai meluas ke bangunan lainnya," ujar Kaleb.

Akibat insiden tersebut, pemilik usaha, A. Sonny, diperkirakan mengalami kerugian material sekitar Rp20 juta akibat rusaknya sebagian bangunan dan perlengkapan di ruang pengepakan. Meski demikian, petugas berhasil menyelamatkan aset bernilai sekitar Rp250 juta yang terdiri atas gudang penyimpanan tembakau, bahan baku, serta area produksi sehingga kerugian yang lebih besar dapat dihindari.

Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Seluruh pekerja dipastikan berada dalam kondisi selamat karena peristiwa terjadi saat aktivitas produksi telah berhenti.

Kaleb mengimbau para pelaku usaha, khususnya yang menjalankan kegiatan produksi, agar rutin melakukan pemeriksaan terhadap instalasi listrik di tempat usahanya. Menurutnya, pemeriksaan berkala pada jaringan listrik, stopkontak, maupun peralatan elektronik sangat penting untuk meminimalkan risiko korsleting yang berpotensi memicu kebakaran.

Ia juga mengingatkan agar setiap tempat usaha menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) yang masih layak pakai serta memastikan seluruh instalasi listrik dipasang sesuai standar keselamatan. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat mempercepat penanganan apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat dan mengurangi potensi kerugian yang lebih besar.(red/lis)

Tuesday, June 30, 2026

"Menyingkap Misteri Peradaban Kediri, Dua Situs Raksasa yang Masih Terkubur Tanah"

 

Situs Adan-Adan yang ekskavasinya belum rampung (photo by radar kediri)


Kediri- Di balik hamparan sawah dan permukiman yang tenang di Kabupaten Kediri, tersimpan jejak sebuah peradaban besar yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Di bawah lapisan tanah yang selama ratusan tahun menyimpan rahasia sejarah, para arkeolog meyakini terdapat kompleks bangunan kuno berskala luas yang menjadi saksi berkembangnya peradaban Hindu di Jawa Timur pada masa lampau.

Dua situs purbakala, yakni Situs Tondowongso di Desa Gayam dan Situs Adan-Adan di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, menjadi bukti bahwa Kediri pernah memiliki pusat kebudayaan yang sangat maju. Sayangnya, berbagai keterbatasan membuat potensi besar tersebut belum sepenuhnya tergali. Padahal, jika penelitian dapat dilakukan secara menyeluruh, bukan tidak mungkin Kediri memiliki destinasi wisata sejarah yang mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

Tondowongso, Potongan Kecil dari Peradaban Besar

Situs Tondowongso berada di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Kompleks cagar budaya ini dikenal sebagai salah satu penemuan arkeologi klasik Hindu-Syiwa terbesar di Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Para peneliti meyakini situs tersebut menyimpan informasi penting mengenai masa transisi perkembangan kebudayaan Hindu dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur.

Potensi sejarah yang dimiliki situs ini sangat besar. Namun, hingga kini masyarakat baru dapat melihat sebagian kecil dari keseluruhan kompleks bangunan kuno tersebut.

Di lokasi, pengunjung akan menjumpai struktur bangunan batu yang telah diberi pelindung atau cungkup. Meski belum sepenuhnya tergali, situs tersebut tetap menjadi tujuan masyarakat yang ingin melihat langsung peninggalan sejarah. Tidak hanya wisatawan, sejumlah orang juga datang untuk melakukan ritual pada malam hari.

"Kalau pengunjung rata-rata sekitar 10 sampai 20 orang setiap hari. Tidak hanya wisatawan, kadang malam juga ada yang datang untuk melakukan ritual," ujar Edi Saputro, juru pelihara Situs Tondowongso.

Meski setiap hari menerima kunjungan, fasilitas pendukung wisata di kawasan tersebut masih sangat terbatas. Jalan menuju lokasi belum sepenuhnya memadai, area parkir masih sederhana, sementara fasilitas dasar seperti toilet belum tersedia. Kondisi itu tentu belum sebanding dengan besarnya nilai sejarah yang dimiliki situs tersebut.

Ditemukan Secara Tidak Sengaja

Awal mula penemuan Situs Tondowongso terjadi pada akhir 2006. Saat itu seorang warga secara tidak sengaja menemukan susunan batu kuno ketika melakukan aktivitas di lahannya. Penemuan tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang dan menjadi awal penelitian arkeologi yang lebih mendalam.

Ekskavasi pertama dilakukan pada 2007. Setelah itu penelitian berlanjut hampir setiap tahun hingga 2014. Memasuki beberapa tahun berikutnya, kegiatan penggalian sempat terhenti sebelum akhirnya kembali dilakukan pada dekade 2020-an.

"Terakhir tahun 2025 hanya untuk pemasangan cungkup," kata Edi.

Serangkaian penelitian yang telah dilakukan menghasilkan berbagai temuan penting. Arkeolog berhasil mengidentifikasi keberadaan sebuah candi induk, tiga candi perwara, gapura, hingga struktur pagar yang mengelilingi kompleks bangunan.

Selain struktur bangunan, pada awal penelitian juga ditemukan sedikitnya 14 arca yang kini disimpan dan dirawat di Museum Sri Aji Jayabaya sebagai upaya pelestarian.

Meski demikian, seluruh temuan tersebut diperkirakan baru sebagian kecil dari kompleks yang sebenarnya.

Baru Tergali Sekitar 10 Persen

Para peneliti memperkirakan luas keseluruhan Situs Tondowongso mencapai sekitar 12 hektare. Namun, bagian yang telah berhasil diekskavasi diperkirakan baru sekitar 10 persen.

Masih banyak bagian bangunan yang diyakini terkubur di bawah permukaan tanah. Bahkan, kaki bangunan candi diperkirakan berada sekitar tiga meter di bawah permukaan.

"Kalau dilakukan penggalian lagi kemungkinan baru akan ketemu sekitar tiga meter sampai ke dasar," jelas Edi.

Artinya, bentuk candi yang selama ini terlihat masih jauh dari wujud aslinya. Apabila keseluruhan struktur berhasil diungkap, ukuran kompleks tersebut diperkirakan jauh lebih megah dibandingkan kondisi yang terlihat sekarang.

Ekskavasi Terkendala Anggaran

Terhentinya penelitian bukan berarti para arkeolog telah menyelesaikan pekerjaannya. Menurut Edi, proses ekskavasi memang tidak bisa dilakukan sekaligus.

Setiap kegiatan penggalian biasanya hanya berlangsung sekitar 10 hari. Waktu yang singkat tersebut membuat penelitian berjalan secara bertahap.

Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi faktor utama. Tim arkeologi harus membagi sumber daya untuk melakukan penelitian di berbagai situs sejarah lain yang tersebar di sejumlah daerah.

Akibatnya, proses pembukaan situs berjalan sangat lambat.

"Kalau nanti bagian bawahnya sudah kelihatan, tampilannya tentu lebih bagus. Orang datang juga akan lebih tertarik," ujarnya.

Status Lahan Menjadi Kendala

Persoalan lain yang belum terselesaikan adalah status kepemilikan lahan.

Pemerintah Kabupaten Kediri hingga kini baru memiliki lahan sekitar 9.700 meter persegi atau belum mencapai satu hektare. Padahal, keseluruhan kawasan Situs Tondowongso diperkirakan memiliki luas sekitar 12 hektare.

Akibatnya, sebagian besar struktur penting, termasuk pagar terluar kompleks candi, masih berada di atas lahan milik warga.

"Yang masih berada di lahan warga itu bagian tembok terluarnya. Perkiraan luas keseluruhan situs sekitar 12 hektare," kata Edi.

Kondisi tersebut membuat penelitian maupun pengembangan kawasan wisata tidak dapat dilakukan secara maksimal. Di sisi lain, warga pemilik lahan juga tidak bebas memanfaatkan tanah mereka karena terdapat tinggalan arkeologi yang harus dilindungi.

Hingga kini belum ada kepastian kapan ekskavasi lanjutan akan kembali dilakukan. Dalam waktu dekat, agenda yang direncanakan hanya berupa pemasangan cungkup tambahan pada bangunan candi induk.

Adan-Adan, Situs Besar yang Masih Terkubur

Kondisi serupa juga terjadi di Situs Adan-Adan yang berada tidak jauh dari Tondowongso.

Situs ini diyakini memiliki nilai sejarah yang tidak kalah penting. Bahkan, luas kawasan yang diperkirakan mencapai puluhan hektare disebut-sebut melebihi kompleks Candi Borobudur.

Namun, sebagian besar kawasan tersebut hingga kini masih tertutup tanah.

Juru pelihara Situs Adan-Adan, Ikhwan, mengatakan penelitian arkeologi telah dilakukan sebanyak lima kali sejak situs ditemukan pada 2016.

Ekskavasi berlangsung hampir setiap tahun hingga 2022. Penelitian sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda.

"Terakhir tahun 2022. Waktu itu pemasangan cungkup sama penggalian di Dusun Genuk yang menemukan tempayan. Setelah itu belum ada lagi," ujarnya.

Selain menemukan struktur bangunan kuno, penelitian juga berhasil mengungkap keberadaan tempayan kuno serta berbagai artefak lain yang menjadi petunjuk kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Lebih Besar dari Borobudur

Salah satu fakta yang menarik perhatian para peneliti adalah ukuran makara atau ornamen pintu candi yang ditemukan di Adan-Adan.

Menurut Ikhwan, ukuran makara tersebut bahkan lebih besar dibandingkan makara yang terdapat di Candi Borobudur.

Temuan itu menjadi indikasi bahwa kompleks bangunan di Adan-Adan kemungkinan memiliki skala yang sangat besar.

Meski demikian, bagian yang berhasil dibuka hingga kini masih sangat kecil. Area utara dan barat sama sekali belum pernah dilakukan penggalian.

"Kalau persentasenya masih sangat kecil. Yang bagian utara sama barat itu belum pernah dibuka sama sekali," jelasnya.

Makam dan Status Lahan Hambat Penelitian

Proses penelitian di Situs Adan-Adan menghadapi tantangan yang lebih rumit.

Salah satu kendala utama adalah keberadaan pemakaman umum di sisi utara situs.

Lokasi yang diduga menyimpan struktur bangunan kuno berada tepat di bawah area pemakaman sehingga ekskavasi tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan relokasi makam ataupun penentuan titik penelitian baru.

"(Titik penggalian) itu kan di bawahnya makam," kata Ikhwan.

Selain persoalan teknis tersebut, seluruh kawasan situs hingga kini masih berada di atas tanah milik masyarakat.

"Masih milik pribadi semua. Belum ada yang dibebaskan," ujarnya.

Akibatnya, penelitian maupun upaya pengembangan kawasan wisata belum bisa dilakukan secara menyeluruh.

Di sisi lain, warga pemilik lahan juga mengalami kerugian karena sebagian tanah yang telah dipasangi pelindung situs tidak lagi dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sementara kepastian pembebasan lahan belum juga ada.

Menunggu Komitmen Pemerintah

Kelanjutan penelitian di kedua situs tersebut sepenuhnya bergantung pada kebijakan pemerintah dan ketersediaan anggaran.

"Kalau soal ekskavasi kami menunggu instruksi dari dinas. Pendanaan juga dari sana," ujar Ikhwan.

Padahal, apabila seluruh kompleks berhasil diungkap dan direkonstruksi, Adan-Adan diyakini mampu menjadi salah satu destinasi wisata sejarah terbesar di Jawa Timur.

Salah satu daya tarik utamanya adalah keberadaan Arca Mahakala yang tergolong sangat langka.

Dalam beberapa waktu terakhir, popularitas situs tersebut mulai meningkat setelah sejumlah konten mengenai Adan-Adan viral di media sosial.

Jika sebelumnya kawasan itu relatif sepi, kini jumlah pengunjung saat akhir pekan dan hari libur dapat mencapai sekitar 300 orang.

"Kalau bisa dibuka semua saya yakin banyak yang tertarik datang ke sini. Bisa lebih ramai seperti Borobudur ataupun Prambanan," tutur Ikhwan.

Potensi besar yang dimiliki Situs Tondowongso dan Adan-Adan menjadi pengingat bahwa masih banyak lembar sejarah Nusantara yang belum sepenuhnya terbuka. Di balik tanah Kediri, tersimpan kisah peradaban yang menunggu untuk diungkap. Dengan penelitian yang berkelanjutan, dukungan anggaran, serta penyelesaian persoalan lahan, bukan tidak mungkin dua situs tersebut kelak menjadi ikon wisata sejarah nasional sekaligus memperkaya pemahaman tentang perjalanan panjang peradaban di Pulau Jawa.(red/lis)

Residivis 11 Kali Masuk Penjara Kembali Ditangkap, Curi Dua Cincin Emas di Solo dan Terlibat Penjambretan

Residivis yang beraksi di 11 lokasi diamankan Polresta Solo (Photo by radar solo)


SOLO- Jeruji besi tampaknya belum mampu memberikan efek jera bagi UD (42), warga Kecamatan Jebres, Kota Solo. Meski telah belasan kali berhadapan dengan hukum, pria tersebut kembali ditangkap aparat kepolisian setelah diduga melakukan pencurian dua cincin emas di sebuah toko emas yang berada di Jalan Kapten Pierre Tendean, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Polisi mengungkapkan bahwa UD merupakan seorang residivis yang telah 11 kali keluar masuk lembaga pemasyarakatan karena berbagai tindak pidana.

Kasus pencurian yang sempat menjadi perhatian publik dan viral di media sosial itu terjadi pada Rabu, 10 Juni 2026. Korban diketahui merupakan pemilik toko emas berinisial LN. Berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku datang ke toko dengan menyamar sebagai calon pembeli sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari para karyawan.

Wakapolresta Solo, AKBP Sigit, menjelaskan bahwa sebelum melancarkan aksinya, UD berpura-pura tertarik membeli perhiasan. Ia beberapa kali meminta karyawan mengambilkan berbagai model cincin emas, kemudian memintanya untuk dipakaikan di jari dengan alasan ingin memastikan ukuran dan kecocokan.

"Pelaku berpura-pura membeli, meminta mencoba beberapa cincin emas, kemudian meminta lagi dan mencoba lagi. Saat karyawan lengah, tersangka langsung merebut dua cincin emas lalu melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda Beat yang sudah disiapkan," ujar AKBP Sigit dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa (30/6/2026).

Aksi tersebut berlangsung sangat cepat. Ketika perhatian karyawan teralihkan, pelaku langsung membawa kabur dua cincin emas yang sedang dicobanya. Setelah berhasil menguasai barang curian, ia segera melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda Beat yang telah diparkir di depan toko sebagai sarana pelarian.

Menerima laporan dari korban, Satreskrim Polresta Solo segera melakukan serangkaian penyelidikan. Tim penyidik mengumpulkan berbagai petunjuk, termasuk rekaman kamera pengawas (CCTV), keterangan para saksi, serta melakukan pelacakan terhadap identitas pelaku. Berkat penyelidikan yang intensif, polisi akhirnya berhasil mengetahui keberadaan UD.

Petugas kemudian melakukan pembuntutan hingga akhirnya berhasil menangkap pelaku di kawasan Pasar Legi, Solo, tanpa perlawanan berarti.

"Satreskrim melakukan pembuntutan hingga akhirnya pelaku berhasil ditangkap di wilayah Solo," kata AKBP Sigit.

Dalam penangkapan tersebut, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan aksi kejahatan pelaku. Barang bukti tersebut meliputi satu unit sepeda motor Honda Beat yang digunakan saat melakukan pencurian, sebuah telepon genggam, pakaian yang dikenakan ketika beraksi, helm, serta kartu identitas milik tersangka.

Selama proses pemeriksaan, UD mengaku melakukan pencurian karena alasan ekonomi. Namun demikian, pihak kepolisian menilai alasan tersebut tidak menghapus fakta bahwa tersangka merupakan pelaku berulang dengan rekam jejak kriminal yang panjang.

"Motifnya ekonomi. Tersangka ini sudah 11 kali keluar masuk penjara sehingga masuk kategori residivis," ungkap AKBP Sigit.

Pengembangan penyidikan kemudian mengungkap fakta baru. Selain terlibat dalam pencurian di toko emas, UD juga diduga menjadi pelaku penjambretan yang terjadi di kawasan Jebres pada Jumat, 19 Juni 2026, sekitar pukul 22.00 WIB.

Dalam kasus tersebut, korban berinisial MC baru saja selesai makan di sebuah warung ketika tiba-tiba tas yang dibawanya dirampas pelaku. Di dalam tas tersebut terdapat sebuah tablet, dokumen pribadi, serta sejumlah barang berharga lainnya. Total kerugian yang dialami korban diperkirakan mencapai sekitar Rp5 juta.

"Awalnya kami mengungkap satu kasus. Setelah dikembangkan ternyata pelaku yang sama juga melakukan aksi di TKP lain," jelas AKBP Sigit.

Saat dilakukan penangkapan, polisi masih menemukan tablet milik korban penjambretan berada dalam penguasaan tersangka sehingga barang tersebut berhasil diamankan sebagai barang bukti. Sementara itu, dua cincin emas hasil pencurian di toko emas diketahui telah dijual oleh pelaku. Aparat kepolisian saat ini masih melakukan penelusuran untuk mengetahui kepada siapa barang tersebut dijual sekaligus membuka kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.

"Untuk emas hasil pencurian sudah dijual. Sedangkan barang bukti dari TKP kedua berupa tablet masih berhasil diamankan karena belum sempat dijual," terang AKBP Sigit.

Atas perbuatannya, UD kini harus kembali mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan hukum. Dalam perkara pencurian cincin emas, penyidik menjerat tersangka dengan Pasal 477 KUHP tentang tindak pidana pencurian yang diancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara. Sementara itu, untuk perkara penjambretan, penyidik menerapkan Pasal 476 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun.

Polresta Solo menegaskan bahwa penyidikan masih terus dikembangkan. Aparat tidak menutup kemungkinan adanya lokasi kejadian lain maupun korban tambahan yang belum melapor, mengingat tersangka memiliki riwayat kriminal yang panjang dan telah berulang kali melakukan tindak kejahatan. Polisi juga mengimbau masyarakat yang merasa pernah menjadi korban dengan ciri-ciri pelaku serupa agar segera melapor guna membantu proses pengungkapan kasus secara menyeluruh.(red/lis)

Monday, June 29, 2026

Empat Orang Jadi Korban Pembacokan Usai Hadiri Pengesahan Perguruan Silat di Boyolali, Pelaku Bermodus Bertopeng

 

Ilustrasi pembacokan di jalan (photo by radar solo)


BOYOLALI- Peristiwa berdarah mengguncang wilayah Boyolali pada Minggu (28/6/2026) malam hingga Senin (29/6/2026) dini hari. Dalam rentang waktu kurang dari satu jam, aksi pembacokan terjadi di tiga titik berbeda yang berada di Kecamatan Sambi dan Kecamatan Banyudono. Akibat serangkaian serangan tersebut, empat orang mengalami luka bacok dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Seluruh korban diketahui baru saja mengikuti kegiatan pengesahan anggota salah satu perguruan silat. Saat dalam perjalanan pulang, mereka diduga menjadi sasaran kelompok pelaku yang telah menunggu di sejumlah lokasi.

Kasi Humas Polres Boyolali AKP Winarsih menjelaskan, insiden pertama terjadi di Desa Trosobo, Kecamatan Sambi, sekitar pukul 00.30 WIB. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, empat orang pelaku yang mengendarai dua sepeda motor menghadang rombongan korban yang terdiri atas tujuh sepeda motor dengan total 14 orang.

Tanpa banyak bicara, para pelaku yang membawa senjata tajam langsung menyerang korban menggunakan senjata tersebut. Dari informasi yang diperoleh di lokasi kejadian, seluruh pelaku menutupi identitas mereka dengan mengenakan topeng.

"Langsung menyabetkan sajam. Informasi yang kami dapat dari lokasi, pelaku memakai topeng," ujar AKP Winarsih, Senin (29/6/2026).

Polisi menduga korban yang diserang merupakan anggota rombongan yang tertinggal dari kelompok besarnya sehingga menjadi target yang lebih mudah. Selain mengakibatkan korban mengalami luka bacok, para pelaku juga membakar sepeda motor milik korban sebelum melarikan diri.

Sekitar 30 menit kemudian, aksi serupa kembali terjadi di wilayah Kecamatan Banyudono. Kali ini, dua orang yang sedang berhenti di tepi jalan untuk buang air kecil tiba-tiba didatangi sekelompok pelaku bertopeng. Tanpa peringatan, korban langsung diserang menggunakan senjata tajam hingga mengalami luka-luka. Tak hanya melakukan pembacokan, pelaku juga membakar sepeda motor milik kedua korban.

Akibat kejadian tersebut, dua korban dari insiden di Kecamatan Sambi dilarikan ke RS Asy Syifa Sambi untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, dua korban lainnya yang menjadi sasaran pembacokan di Banyudono dievakuasi ke RS Indriati guna menjalani perawatan intensif.

Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas para pelaku dan motif di balik serangkaian aksi kekerasan tersebut. Petugas juga terus mengumpulkan keterangan saksi serta barang bukti dari lokasi kejadian guna memburu para pelaku yang hingga kini masih dalam pengejaran.(red/lis)

Korban Pengeroyokan di Kendangsari Surabaya Sebut Pelaku Diduga Remaja, Kaos Atribut Silat Ikut Dirampas

PERAWATAN: Korban pengeroyokan di Jalan Kendangsari, Surabaya, saat mendapat penanganan medis di rumah sakit (photo by radar surabaya)



SURABAYA- Kasus pengeroyokan yang menimpa dua pemuda di kawasan Jalan Kendangsari Industri, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya, hingga kini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Salah seorang korban, Ibrahim (18), mengaku tidak mengenali para pelaku yang menyerangnya secara brutal pada Senin (22/6) dini hari.

Menurut Ibrahim, kelompok pelaku diduga berusia sekitar 17 tahun ke atas. Setelah melakukan pengeroyokan, para pelaku disebut melarikan diri ke arah kawasan Jemur Andayani. Berdasarkan pengamatannya, para pelaku diduga merupakan warga Surabaya.

"Saya sama sekali tidak kenal dengan mereka. Usianya sekitar 17 tahun ke atas. Setelah kejadian mereka kabur ke arah Jemur. Sepertinya anak Surabaya," ujar Ibrahim, Minggu (28/6).

Tidak hanya melakukan penganiayaan, para pelaku juga diduga merampas barang milik korban. Ibrahim menjelaskan bahwa kaos beratribut perguruan silat yang dikenakan rekannya, Ilham, diambil secara paksa. Selain itu, pelaku juga mencabut kunci kontak sepeda motor yang mereka gunakan.

"Yang memakai kaos atribut silat itu Ilham. Yang diambil cuma kaos sama kunci kontak motor," ungkapnya.

Sementara itu, kondisi Ilham yang mengalami luka di bagian punggung akibat diduga terkena tusukan senjata tajam kini mulai membaik. Ia telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, namun masih menjalani masa pemulihan akibat luka yang dideritanya.

Ibrahim juga mengaku belum menerima informasi mengenai penangkapan para pelaku. Hingga saat ini, menurutnya, seluruh pelaku masih berkeliaran dan belum berhasil diamankan oleh pihak kepolisian.

Kronologi Kejadian

Peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi pada Senin (22/6) sekitar pukul 04.00 WIB di Jalan Kendangsari Industri, Surabaya. Saat itu Ibrahim dan Ilham baru saja pulang setelah menghabiskan waktu bersama di kawasan Rungkut.

Keduanya mengendarai sepeda motor Honda Supra X dengan posisi Ilham dibonceng. Ketika melintas di Jalan Kendangsari Industri dan hendak berbelok menuju Kutisari, mereka bertemu dengan rombongan pengendara motor yang diduga sedang melakukan konvoi.

"Saya mau belok ke Kutisari tidak bisa karena ramai. Akhirnya saya lurus. Setelah melewati depan kantor PDIP, kami langsung diserang," tutur Ibrahim.

Tanpa diduga, rombongan tersebut langsung menghentikan laju kendaraan korban. Beberapa pelaku menendang sepeda motor hingga keduanya terjatuh. Selain itu, baju yang dikenakan Ilham juga sempat ditarik oleh para pelaku sebelum pengeroyokan berlangsung.

Ibrahim mengaku sempat menjadi sasaran pukulan beberapa orang. Setelah berhasil berdiri, ia berusaha menyelamatkan diri. Namun nahas, Ilham justru menjadi sasaran utama pengeroyokan yang dilakukan oleh belasan orang.

Menurut perkiraannya, jumlah pelaku mencapai sekitar 15 orang atau lebih. Mereka datang menggunakan sejumlah sepeda motor dan sebagian mengenakan pakaian beratribut perguruan silat.

"Jumlahnya sekitar 15 orang lebih. Mereka datang naik motor banyak. Dari cerita Ilham saat kami membuat laporan, para pelaku memakai baju pencak silat," jelasnya.

Akibat aksi kekerasan tersebut, Ilham mengalami dua luka di bagian punggung yang diduga akibat tusukan benda tajam sehingga harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Royal Surabaya. Sementara Ibrahim mengalami luka memar pada punggung dan bibir, serta nyeri di bagian telinga akibat pukulan menggunakan benda tumpul yang diduga berupa ruyung.

"Alhamdulillah kondisinya sekarang sudah stabil. Tapi kalau batuk atau tertawa masih terasa sakit. Saya sendiri mengalami memar di punggung dan bibir, telinga juga masih nyeri karena dipukul menggunakan ruyung," kata Ibrahim.

Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa pelaku membawa senjata, di antaranya dua senjata tajam, sebuah ruyung, dan sebatang kayu panjang yang diduga digunakan saat melakukan penyerangan.

Usai kejadian, kedua korban langsung melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Tenggilis Mejoyo. Mereka berharap aparat kepolisian segera menangkap seluruh pelaku agar kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat.

"Kami berharap pelaku segera ditangkap. Kami sudah menjadi korban dan tidak ingin mereka kembali beraksi terhadap warga lain yang tidak tahu apa-apa," harap Ibrahim.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tenggilis Mejoyo, Iptu Bagus Tri, membenarkan adanya laporan terkait kasus pengeroyokan tersebut. Ia menyatakan bahwa pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan memburu seluruh pelaku yang terlibat.

"Masih dalam pencarian pelaku," ujar Bagus singkat.(red/lis)

Polri

Terkini

Sulsel

Kriminal

Ekonomi

© Copyright 2020 Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA | All Right Reserved