Situs Adan-Adan yang ekskavasinya belum rampung (photo by radar kediri)
Kediri- Di balik hamparan sawah dan permukiman yang tenang di Kabupaten Kediri, tersimpan jejak sebuah peradaban besar yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Di bawah lapisan tanah yang selama ratusan tahun menyimpan rahasia sejarah, para arkeolog meyakini terdapat kompleks bangunan kuno berskala luas yang menjadi saksi berkembangnya peradaban Hindu di Jawa Timur pada masa lampau.
Dua situs purbakala, yakni Situs Tondowongso di Desa Gayam dan Situs Adan-Adan di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, menjadi bukti bahwa Kediri pernah memiliki pusat kebudayaan yang sangat maju. Sayangnya, berbagai keterbatasan membuat potensi besar tersebut belum sepenuhnya tergali. Padahal, jika penelitian dapat dilakukan secara menyeluruh, bukan tidak mungkin Kediri memiliki destinasi wisata sejarah yang mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Tondowongso, Potongan Kecil dari Peradaban Besar
Situs Tondowongso berada di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Kompleks cagar budaya ini dikenal sebagai salah satu penemuan arkeologi klasik Hindu-Syiwa terbesar di Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Para peneliti meyakini situs tersebut menyimpan informasi penting mengenai masa transisi perkembangan kebudayaan Hindu dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur.
Potensi sejarah yang dimiliki situs ini sangat besar. Namun, hingga kini masyarakat baru dapat melihat sebagian kecil dari keseluruhan kompleks bangunan kuno tersebut.
Di lokasi, pengunjung akan menjumpai struktur bangunan batu yang telah diberi pelindung atau cungkup. Meski belum sepenuhnya tergali, situs tersebut tetap menjadi tujuan masyarakat yang ingin melihat langsung peninggalan sejarah. Tidak hanya wisatawan, sejumlah orang juga datang untuk melakukan ritual pada malam hari.
"Kalau pengunjung rata-rata sekitar 10 sampai 20 orang setiap hari. Tidak hanya wisatawan, kadang malam juga ada yang datang untuk melakukan ritual," ujar Edi Saputro, juru pelihara Situs Tondowongso.
Meski setiap hari menerima kunjungan, fasilitas pendukung wisata di kawasan tersebut masih sangat terbatas. Jalan menuju lokasi belum sepenuhnya memadai, area parkir masih sederhana, sementara fasilitas dasar seperti toilet belum tersedia. Kondisi itu tentu belum sebanding dengan besarnya nilai sejarah yang dimiliki situs tersebut.
Ditemukan Secara Tidak Sengaja
Awal mula penemuan Situs Tondowongso terjadi pada akhir 2006. Saat itu seorang warga secara tidak sengaja menemukan susunan batu kuno ketika melakukan aktivitas di lahannya. Penemuan tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang dan menjadi awal penelitian arkeologi yang lebih mendalam.
Ekskavasi pertama dilakukan pada 2007. Setelah itu penelitian berlanjut hampir setiap tahun hingga 2014. Memasuki beberapa tahun berikutnya, kegiatan penggalian sempat terhenti sebelum akhirnya kembali dilakukan pada dekade 2020-an.
"Terakhir tahun 2025 hanya untuk pemasangan cungkup," kata Edi.
Serangkaian penelitian yang telah dilakukan menghasilkan berbagai temuan penting. Arkeolog berhasil mengidentifikasi keberadaan sebuah candi induk, tiga candi perwara, gapura, hingga struktur pagar yang mengelilingi kompleks bangunan.
Selain struktur bangunan, pada awal penelitian juga ditemukan sedikitnya 14 arca yang kini disimpan dan dirawat di Museum Sri Aji Jayabaya sebagai upaya pelestarian.
Meski demikian, seluruh temuan tersebut diperkirakan baru sebagian kecil dari kompleks yang sebenarnya.
Baru Tergali Sekitar 10 Persen
Para peneliti memperkirakan luas keseluruhan Situs Tondowongso mencapai sekitar 12 hektare. Namun, bagian yang telah berhasil diekskavasi diperkirakan baru sekitar 10 persen.
Masih banyak bagian bangunan yang diyakini terkubur di bawah permukaan tanah. Bahkan, kaki bangunan candi diperkirakan berada sekitar tiga meter di bawah permukaan.
"Kalau dilakukan penggalian lagi kemungkinan baru akan ketemu sekitar tiga meter sampai ke dasar," jelas Edi.
Artinya, bentuk candi yang selama ini terlihat masih jauh dari wujud aslinya. Apabila keseluruhan struktur berhasil diungkap, ukuran kompleks tersebut diperkirakan jauh lebih megah dibandingkan kondisi yang terlihat sekarang.
Ekskavasi Terkendala Anggaran
Terhentinya penelitian bukan berarti para arkeolog telah menyelesaikan pekerjaannya. Menurut Edi, proses ekskavasi memang tidak bisa dilakukan sekaligus.
Setiap kegiatan penggalian biasanya hanya berlangsung sekitar 10 hari. Waktu yang singkat tersebut membuat penelitian berjalan secara bertahap.
Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi faktor utama. Tim arkeologi harus membagi sumber daya untuk melakukan penelitian di berbagai situs sejarah lain yang tersebar di sejumlah daerah.
Akibatnya, proses pembukaan situs berjalan sangat lambat.
"Kalau nanti bagian bawahnya sudah kelihatan, tampilannya tentu lebih bagus. Orang datang juga akan lebih tertarik," ujarnya.
Status Lahan Menjadi Kendala
Persoalan lain yang belum terselesaikan adalah status kepemilikan lahan.
Pemerintah Kabupaten Kediri hingga kini baru memiliki lahan sekitar 9.700 meter persegi atau belum mencapai satu hektare. Padahal, keseluruhan kawasan Situs Tondowongso diperkirakan memiliki luas sekitar 12 hektare.
Akibatnya, sebagian besar struktur penting, termasuk pagar terluar kompleks candi, masih berada di atas lahan milik warga.
"Yang masih berada di lahan warga itu bagian tembok terluarnya. Perkiraan luas keseluruhan situs sekitar 12 hektare," kata Edi.
Kondisi tersebut membuat penelitian maupun pengembangan kawasan wisata tidak dapat dilakukan secara maksimal. Di sisi lain, warga pemilik lahan juga tidak bebas memanfaatkan tanah mereka karena terdapat tinggalan arkeologi yang harus dilindungi.
Hingga kini belum ada kepastian kapan ekskavasi lanjutan akan kembali dilakukan. Dalam waktu dekat, agenda yang direncanakan hanya berupa pemasangan cungkup tambahan pada bangunan candi induk.
Adan-Adan, Situs Besar yang Masih Terkubur
Kondisi serupa juga terjadi di Situs Adan-Adan yang berada tidak jauh dari Tondowongso.
Situs ini diyakini memiliki nilai sejarah yang tidak kalah penting. Bahkan, luas kawasan yang diperkirakan mencapai puluhan hektare disebut-sebut melebihi kompleks Candi Borobudur.
Namun, sebagian besar kawasan tersebut hingga kini masih tertutup tanah.
Juru pelihara Situs Adan-Adan, Ikhwan, mengatakan penelitian arkeologi telah dilakukan sebanyak lima kali sejak situs ditemukan pada 2016.
Ekskavasi berlangsung hampir setiap tahun hingga 2022. Penelitian sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda.
"Terakhir tahun 2022. Waktu itu pemasangan cungkup sama penggalian di Dusun Genuk yang menemukan tempayan. Setelah itu belum ada lagi," ujarnya.
Selain menemukan struktur bangunan kuno, penelitian juga berhasil mengungkap keberadaan tempayan kuno serta berbagai artefak lain yang menjadi petunjuk kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Lebih Besar dari Borobudur
Salah satu fakta yang menarik perhatian para peneliti adalah ukuran makara atau ornamen pintu candi yang ditemukan di Adan-Adan.
Menurut Ikhwan, ukuran makara tersebut bahkan lebih besar dibandingkan makara yang terdapat di Candi Borobudur.
Temuan itu menjadi indikasi bahwa kompleks bangunan di Adan-Adan kemungkinan memiliki skala yang sangat besar.
Meski demikian, bagian yang berhasil dibuka hingga kini masih sangat kecil. Area utara dan barat sama sekali belum pernah dilakukan penggalian.
"Kalau persentasenya masih sangat kecil. Yang bagian utara sama barat itu belum pernah dibuka sama sekali," jelasnya.
Makam dan Status Lahan Hambat Penelitian
Proses penelitian di Situs Adan-Adan menghadapi tantangan yang lebih rumit.
Salah satu kendala utama adalah keberadaan pemakaman umum di sisi utara situs.
Lokasi yang diduga menyimpan struktur bangunan kuno berada tepat di bawah area pemakaman sehingga ekskavasi tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan relokasi makam ataupun penentuan titik penelitian baru.
"(Titik penggalian) itu kan di bawahnya makam," kata Ikhwan.
Selain persoalan teknis tersebut, seluruh kawasan situs hingga kini masih berada di atas tanah milik masyarakat.
"Masih milik pribadi semua. Belum ada yang dibebaskan," ujarnya.
Akibatnya, penelitian maupun upaya pengembangan kawasan wisata belum bisa dilakukan secara menyeluruh.
Di sisi lain, warga pemilik lahan juga mengalami kerugian karena sebagian tanah yang telah dipasangi pelindung situs tidak lagi dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sementara kepastian pembebasan lahan belum juga ada.
Menunggu Komitmen Pemerintah
Kelanjutan penelitian di kedua situs tersebut sepenuhnya bergantung pada kebijakan pemerintah dan ketersediaan anggaran.
"Kalau soal ekskavasi kami menunggu instruksi dari dinas. Pendanaan juga dari sana," ujar Ikhwan.
Padahal, apabila seluruh kompleks berhasil diungkap dan direkonstruksi, Adan-Adan diyakini mampu menjadi salah satu destinasi wisata sejarah terbesar di Jawa Timur.
Salah satu daya tarik utamanya adalah keberadaan Arca Mahakala yang tergolong sangat langka.
Dalam beberapa waktu terakhir, popularitas situs tersebut mulai meningkat setelah sejumlah konten mengenai Adan-Adan viral di media sosial.
Jika sebelumnya kawasan itu relatif sepi, kini jumlah pengunjung saat akhir pekan dan hari libur dapat mencapai sekitar 300 orang.
"Kalau bisa dibuka semua saya yakin banyak yang tertarik datang ke sini. Bisa lebih ramai seperti Borobudur ataupun Prambanan," tutur Ikhwan.
Potensi besar yang dimiliki Situs Tondowongso dan Adan-Adan menjadi pengingat bahwa masih banyak lembar sejarah Nusantara yang belum sepenuhnya terbuka. Di balik tanah Kediri, tersimpan kisah peradaban yang menunggu untuk diungkap. Dengan penelitian yang berkelanjutan, dukungan anggaran, serta penyelesaian persoalan lahan, bukan tidak mungkin dua situs tersebut kelak menjadi ikon wisata sejarah nasional sekaligus memperkaya pemahaman tentang perjalanan panjang peradaban di Pulau Jawa.(red/lis)

FOLLOW THE Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram