Saturday, April 20, 2024

Mereka yang Tetap Setia Berjaga di Pos PAM Meski Libur Lebaran Berlalu

 




Sukabumi
, rakyatindonesia.com - Saat kebanyakan orang sudah selesai menjalankan aktivitas mudik, bersilaturahmi dan berkumpul dengan keluarganya, sejumlah personel Pos PAM masih masih setia berada di jalanan. Memantau aktivitas kendaraan dan wisatawan yang masih saja berdatangan terutama di akhir pekan ini.
Salah satunya adalah Kompol Roni Haryanto, Kapolsek Palabuhanratu, Resor Sukabumi. Ia adalah polisi yang membopong ibu hamil di tengah kepadatan kendaraan pada Minggu (14/4/2024) lalu. Meskipun hiruk pikuk arus mudik telah berlalu, kehadirannya tersebut adalah bukti tegar dari pengabdian seorang anggota polisi.

"Sekarang teknologi kan sudah maju, udah canggih. Mengobati rasa rindu bisa melalui video call. Silaturahmi juga bisa lewat online, walau belum mudik hal itu sudah cukup," kata Roni kepada detikJabar, Jumat (19/4/2024) petang.

Diketahui, Kapolres Sukabumi AKBP Tony Prasetyo telah mengakhiri Operasi Ketupat Lodaya pada Selasa (16/4). Meski begitu, ia mengarahkan anggotanya untuk tetap menjalankan kegiatan rutin kepolisian yang ditingkatkan atau KRYD.

"Sesuai arahan bapak kapolres, kita tetap melakukan penjagaan seperti biasa. Karena wisatawan masih ada yang berdatangan, saat operasi kemarin juga all out semua anggota berjaga di Pos PAM, siang dan malam sudah biasa. Yang penting, support vitamin juga dari Polres dari medis juga cukup," tuturnya.

Desir debu jalanan terasa kasar menyapu wajah, Roni mengusapnya perlahan menggunakan sehelai kain yang sudah terlihat lusuh. Matanya berbinar saat ditanyakan kondisi ibu yang ia bopong karena akan melahirkan di tengah kepadatan arus lalu lintas.

"Sudah, informasinya sudah melahirkan alhamdulillah bayinya laki-laki beratnya 3,9 kilogram. Melahirkan sekitar pukul 22.30 WIB, ya Minggu malamnya ya," kata Roni.

"Saya belum sempat melihat atau nengok, hanya dikabari oleh pihak rumah sakit katanya alhamdulillah anaknya sehat jenis kelamin laki-laki. Ibunya juga selamat," sabungnya.

Roni menekankan, hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa, namun sudah menjadi tugas dari seorang polisi. Teriakan minta tolong dari sopir saat itu adalah respon atas keselamatan sang ibu.

"Posisinya dari kedua arah padat kendaraan, mau menyalip enggak bisa. Akhirnya sopir dogong (pikap) itu meminta tolong teriak, saya spontan menghampiri dan berkoordinasi dengan tim medis suaya ambulans mendekat, kemudian saya bopong ke ambulans karena si ibunya terlihat sudah lemah, itu hal biasa karena sudah menjadi tugas kami," tuturnya.

Dihubungi terpisah, Kapolres Sukabumi AKBP Tony Prasetyo mengatakan, pihaknya memang belum secara total menghentikan kegiatan pengamanan. Tony menyebut, sebagai lokasi wisata, petugas diharapkan bisa bekerja ekstra.

"Selesai Operasi Ketupat Lodaya berlanjut KRYD, masih ada 272 personel yang masih bertugas seperti biasa. Mulai tanggal 17 sampai tanggal 23 April nanti," kata Tony.

Ia pun menjelaskan, KRYD dilakukan selepas operasi ketupat sebagai bentuk antisipatif karena prediksi belum semua pemudik ikut dalam arus balik.

"Antisipatif, karena prediksi kami belum semua pemudik sudah pada balik walaupun momen mudik lebaran sudah usai dan sebagian masyarakat sudah kembali masuk kerja secara normal," jelasnya.

Tony tidak membantah, banyak personelnya yang belum pulang kampung dan berkumpul bersama keluarganya. Namun hal itu sudah menjadi kewajiban dalam menjalankan tugas.

"Saya saja belum mudik kang, bagaimanapun sudah kewajiban. Saya juga apresiasi kepada anggota yang masih setia berjaga di lapangan hingga hari ini. Terlebih, lokasi wisata di akhir pekan ini juga harus mendapat perhatian agar wisatawan bisa datang dengan nyaman dan aman," pungkas Tony.

(red.alz)

Thursday, April 18, 2024

Dilema Tumpukan Sampah di Jalur Masuk Geopark Ciletuh Sukabumi

 


Sukabumi
, rakyatindonesia.com  - Persoalan tumpukan sampah di dekat Jembatan Bagbagan, ruas jalan Bagbagan - Pajampangan yang merupakan salah satu jalan utama masuk ke kawasan wisata Geopark Ciletuh, ternyata membuat bingung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi.
Kebingungan ini dipicu lokasi penempatan bak berupa kontainer untuk penampungan sementara sampah-sampah tersebut. "Masalah sampah di Jembatan Bagbagan sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Kita sudah sepakat antara DLH, desa dan kecamatan mau menempatkan bak kontainer yang besar isinya lumayan besar ya bisa sampai 6 kubikan. Hanya kita kesulitan mencari lahannya," kata Subkordinator Bidang Pengangkutan Sampah, DLH Kabupaten Sukabumi, Endang Suherman kepada detikJabar, Kamis (18/4/2024).

Menurut Endang, kawasan itu padat permukiman penduduk, penempatan di ujung jembatan juga tidak memungkinkan karena ukuran bak kontainer tersebut cukup besar. Koordinasi sudah kerap dilakukan baik itu dengan desa maupun kecamatan. Namun warga tetap menolak.

"Kita sudah dengan kades, dan kecamatan, banyak warga tidak menerima. Misalkan ditempatkan kontainer, itu sudah beberapa kali, sampai camat beberapa kali ganti sudah kita inikan. Kita DLH sudah siap menempatkan kontainer, masalahnya ya itu tadi, warga menolak," ujarnya.

"Harus dibuka lagi komunikasi warga dan pihak desa juga kecamatan, kita ke arah Mariuk kita survei, ke arah Cihurang juga sudah kita survei hanya warga memang yang namanya bak sampah kan bau kalau dekat permukiman warga," sambung Endang.

Senada dengan Endang, Kepala Desa Cidadap Deden Anta Nurman membenarkan soal penolakan warga tentang pembangunan bak sampah. Tidak tersedianya lahan menjadi persoalan.

"Persoalan sampah milarian (mencari) solusinya bingung, untuk tempat pembuanganya. Secara faktanya yang membuang sampah itu adalah warga di luar Cidadap, kenapa begitu karena di Cidadap mulai dari (Kampung) Selakopi, Cihurang, Babakan Lebu Ranca Reunghas sering pengangkutan sampah dua kali seminggu. Bahkan di dekat Mariuk ada kendaraan pengangkut sampah," beber Deden.

Berdasarkan informasi dari warganya, Deden mengaku kerap menerima laporan, mereka yang membuang sampah bukanlah warga dari desanya. Ia mencontohkan seharusnya memang ada petugas khusus yang mengawasi dan menegur kepada oknum warga yang membuang sampah di dekat jembatan.

"Harus ada penjagaan, berbagai solusi pernah dilakukan sampai beberapa kali berganti camat dipasang peringatan tapi ya tetap saja ada yang ngeyel. Padahal ada Undang-undang dan aturannya namun enggak mempan," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, tumpukan sampah terlihat berjajar berserakan di pinggir Ruas Jalan Raya Bagbagan - Pajampangan atau tepatnya di bahu jalan dekat Jembatan Bagbagan, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Sebuah baliho berukuran sedang lengkap dengan foto dan tulisan Kang Asep berisi ucapan selamat Ramadan, memberi kesan seolah memelototi deretan sampah tersebut. Kang Asep adalah Asep Japar, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi.

"Kesannya beliau lagi memerhatikan sampah di tempat itu yang memang tidak enak dipandang. Mudah-mudahan jadi perhatian pihak dinas terutama kebersihan, agar tidak ada lagi sampah menumpuk di situ. Karena setiap hari pasti ada saja yang membuang ke tempat itu," kata Ujang Achir, pengguna jalan yang ditemui detikJabar, Kamis (18/4/2024).

(red.alz)
© Copyright 2020 Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA | All Right Reserved