Monday, June 22, 2026

Berebut Viewers di Dunia Maya, Kreator Manfaatkan Ruang Publik untuk Konten Live

Fenomena live tiktok di sejumlah fasilitas umum di Kediri Foto by Radar Kediri


KEDIRI- Fenomena siaran langsung (live streaming) di media sosial yang dilakukan di ruang publik semakin menarik perhatian para pengamat sosial. Menurut Taufik Alamin, dosen di Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri, media sosial saat ini telah berkembang menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk menunjukkan eksistensi diri. Dalam upaya memperoleh perhatian dan pengakuan dari publik, banyak orang memanfaatkan ruang-ruang publik sebagai latar maupun lokasi utama pembuatan konten.

Salah satu lokasi yang kerap dipilih adalah area persimpangan jalan atau lampu lalu lintas. Pemilihan tempat tersebut bukan tanpa alasan. Ketika kendaraan berhenti selama beberapa menit saat lampu merah menyala, para pengendara dan penumpang secara tidak langsung menjadi audiens potensial sekaligus bagian dari latar siaran langsung. Situasi ini dianggap strategis karena mampu menghadirkan keramaian yang dapat meningkatkan daya tarik konten di mata penonton, baik yang berada di lokasi maupun yang menyaksikan melalui media sosial.

Namun demikian, Taufik menilai bahwa aktivitas live streaming di ruang publik juga berpotensi menimbulkan persoalan. Fasilitas umum seperti jalan raya dan persimpangan dibangun untuk menunjang mobilitas masyarakat serta menjaga kelancaran lalu lintas. Ketika ruang tersebut dimanfaatkan sebagai arena hiburan atau produksi konten, fungsi utamanya dapat terganggu. Kehadiran aktivitas yang mencolok dan menarik perhatian berlebihan berisiko mengalihkan fokus pengguna jalan yang seharusnya berkonsentrasi pada kondisi lalu lintas demi keselamatan bersama.

Lebih jauh, maraknya fenomena live streaming di ruang publik mencerminkan adanya perubahan budaya dalam masyarakat modern. Ketergantungan terhadap dunia digital semakin meningkat, sementara media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi dan berbagi informasi. Platform digital kini bertransformasi menjadi panggung sosial tempat individu membangun citra diri, menampilkan identitas, serta mencari pengakuan dari khalayak yang lebih luas. Jumlah pengikut, komentar, dan penonton sering kali dijadikan ukuran popularitas maupun keberhasilan seseorang di ruang virtual.

Selain faktor eksistensi, aspek ekonomi juga menjadi pendorong utama munculnya fenomena tersebut. Banyak kreator konten memandang media sosial sebagai sumber penghasilan yang menjanjikan. Semakin tinggi jumlah penonton dan interaksi yang diperoleh, semakin besar pula peluang mendapatkan keuntungan melalui monetisasi platform, kerja sama promosi, hingga dukungan dari penggemar. Kondisi ini mendorong para kreator untuk terus mencari ide dan konsep yang unik agar mampu bersaing dalam merebut perhatian publik.

Dalam konteks tersebut, perhatian masyarakat menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Yang diperjualbelikan bukan hanya produk atau jasa, melainkan juga tingkat viralitas dan jumlah penonton. Akibatnya, banyak kreator berusaha menghadirkan sesuatu yang berbeda, bahkan terkadang tidak lazim, demi memunculkan rasa penasaran audiens. Fenomena ini memiliki kemiripan dengan prinsip dalam dunia jurnalistik, di mana peristiwa yang dianggap biasa cenderung kurang menarik perhatian dibandingkan kejadian yang unik, mengejutkan, atau memiliki nilai kebaruan.

Perkembangan budaya digital juga berdampak pada cara individu mengekspresikan diri. Jika sebelumnya banyak orang merasa canggung tampil di depan umum, kini batas tersebut semakin memudar. Ruang virtual memberikan perasaan kebebasan yang lebih besar untuk menunjukkan diri, mengungkapkan pendapat, maupun menampilkan aktivitas sehari-hari kepada publik. Dalam kondisi tersebut, rasa malu atau sungkan yang dahulu menjadi penghalang perlahan berkurang karena individu merasa memperoleh ruang untuk menemukan identitas dan eksistensinya.

Dengan demikian, maraknya siaran langsung di ruang publik tidak hanya dapat dipahami sebagai tren penggunaan media sosial semata, tetapi juga sebagai refleksi dari perubahan sosial, budaya, dan ekonomi di era digital. Fenomena ini menunjukkan bagaimana kebutuhan akan pengakuan, pencarian keuntungan ekonomi, serta perkembangan teknologi saling berinteraksi dan membentuk pola perilaku baru dalam kehidupan masyarakat modern.(red/lisa)

© Copyright 2020 Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA | All Right Reserved