Tuesday, January 30, 2024

Pekerja Serabutan di Blitar Gantung Diri Diduga Terjerat Utang

 


Blitar, rakyatindonesia.com  - Seorang pria di Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar ditemukan tewas gantung diri. Korban diduga nekat mengakhiri hidupnya karena persoalan utang.


Korban diketahui berinisial RMD (43). Pria yang sehari-hari bekerja serabutan ini ditemukan gantung diri di bangunan bekas kandang sekitar rumahnya.


"Benar petugas Polsek Srengat mendapatkan informasi adanya warga yang gantung diri di sebuah kandang bekas, dekat dengan rumah korban," terang Kasubsi Humas Penmas Polres Blitar Kota, Aipda Supriyadi


Supriyadi mengatakan korban pertama kali ditemukan oleh tetangganya sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu tetangganya hendak membuang sampah


Namun alangkah terkejutnya, sang tetangga telah menemukan korban tewas tergantung di kayu bagian atap kandang. Peristiwa ini selanjutnya dilaporkan ke perangkat desa dan Polsek Srengat.


"Petugas mendatangi lokasi untuk evakuasi dan identifikasi. Tim kesehatan petugas Puskesmas juga melakukan pemeriksaan luar," jelasnya.


Di TKP, petugas menemukan korban sudah dalam keadaan tewas tergantung pada seutas tali sepanjang 2,5 meter. Selain itu, sebuah handphone milik korban juga ditemukan oleh petugas. Petugas juga tidak menemukan tanda - tanda kekerasan pada tubuh korban.


Sementara terkait penyebab korban gantung diri, Kata Supriyadi, pihaknya masih melakukan pendalaman. Namun, berdasarkan keterangan keluarga korban sempat mengeluh memiliki utang.


"Sempat mengeluh ada beban hutang kepada seseorang yang ditanggung. Korban dikenal sebagai seorang yang pendiam dan tertutup. Jadi masih didalami (penyebabnya)," terangnya.


Supriyadi menambahkan keluarga korban tidak menghendaki dilakukan autopsi. Keluarga sepakat menerima kematian korban sebagai musibah. Sehingga dilakukan penandatanganan surat pernyataan oleh pihak keluarga.(red.w)

Sunday, September 10, 2023

Lahan Perhutani di Blitar Terbakar atau Dibakar?

  


Blitar, rakyatindonesia.com – Lahan seluas 0,5 hektare milik Perhutani yang berada di Desa Bacem Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar terbakar hebat. Kawasan hutan yang terbakar ini berada di Petak 80a RPH Rampal Ombo BKPH Lotim KPH Blitar

Kebakaran di kawasan hutan produksi milik Perhutani ini terjadi pada Sabtu (09/09/23) sekitar pukul 18.18 WIB. Kebakaran tersebut pertama kali diketahui oleh salah satu pengurus masyarakat pelestari hutan Blitar.

Diduga api berasal dari aktivitas pembakaran serasah atau tumpukan dedaunan kering di kawasan kandang ayam yang berdekatan dengan hutan milik Perhutani. Api kemudian merembet ke area hutan.

“Luasnya 0,5 hektare diperbatasan hutan dengan lahan pemajakan, jadi warga lagi bersih-bersih kemudian merembet,” kata Muklisin, Administratur (ADM) Perum Perhutani KPH Blitar, Sabtu (10/09/23).

Menurut Muklisin, kebakaran ini terjadi bukan karena faktor kesengajaan. Lahan seluas 0,5 hektare tersebut terbakar lantaran adanya perembetan api dari aktivitas warga yang berada di luar kawasan.

Sehingga bisa diartikan bahwa kebakaran di area hutan ini tidak disengaja. Namun demikian, petugas Perhutani masih melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

“Kalau dilihat dari titik awal api itu kan di luar kawasan jadi nampaknya bukan disengaja dibakar,” ungkapnya.

Api sendiri bisa dijinakkan oleh 7 orang petugas dan dibantu warga sekitar pukul 19.49 WIB. Pembasahan juga dilakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran api susulan.

Perhutani Blitar sendiri terus menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan di musim kemarau. Pasalnya wilayah hutan bisa Bacem kecamatan Sutojayan kabupaten Blitar tersebut memang sering terjadi kebakaran setiap musim kemarau datang.

Penyebab kebakaran berbagai macam mulai dari suhu panas yang membuat daun-daun kering yang berada di kawasan hutan tersebut terbakar hingga ada praktek nakal yang dilakukan oleh sejumlah warga untuk membuka lahan baru. Selain imbuhan Perhutani Blitar juga akan melakukan penindakan jika ditemukan warga atau sekelompok masyarakat yang nekat melakukan pembakaran hutan demi membuka lahan baru.

“Kami sudah sosialisasikan ke masyarakat dengan juga sudah memasang banner banner di sekitar kawasan hutan untuk tidak melakukan pembakaran hutan,” tutupnya.

Kawasan hutan di desa Bacem kecamatan Sutojayan kabupaten Blitar tersebut memang jadi salah satu daerah rawan kebakaran hutan. Hampir setiap tahun di lokasi tersebut ada laporan kebakaran hutan yang terjadi saat memasuki musim kemarau. (red.IY)

Wali Kota Blitar Tolak Komentari JPU soal Samanhudi Otak Perampokan

         


BLITAR, rakyatindonesia.com – Wali Kota Blitar Santoso menolak mengomentari argumen jaksa penuntut umum (JPU) pada persidangan kasus perampokan rumah dinas Wali Kota Blitar bahwa mantan wali kota Blitar M Samanhudi Anwar merupakan otak perampokan. 

Santoso, yang selama 20 tahun terakhir karirnya di birokrasi dan politik berada di bawah bayang-bayang Samanhudi itu, menegaskan bahwa dirinya menyerahkan sepenuhnya proses peradilan perampokan yang menimpa diri dan istrinya di rumah dinas akhir 2022 lalu kepada mekanisme hukum yang berlaku.

 “Jadi saya sudah tidak akan lagi mengungkap tentang hal itu. Oke,” kata Santoso, Kamis (7/9/2023), menjawab pertanyaan terkait argumen JPU bahwa Samanhudi merupakan otak perampokan terhadap Santoso di rumah dinasnya.

JPU, pada beberapa kali kesempatan di sesi persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, mendasarkan dakwaan itu pada bukti-bukti adanya motif sakit hati dan dendam Samanhudi terhadap Santoso. 

Selanjutnya, saat ditanya tuntutan yang disampaikan JPU terhadap Samanhudi berupa pidana penjara 5 tahun, Santoso kembali mengatakan bahwa ia menyerahkan sepenuhnya pada proses peradilan yang sedang berlangsung. 

“Saya serahkan sepenuhnya ke aparat yang berhak menangani. Karena saya yakin semuanya sudah diperhitungkan, dipertimbangkan,” ujarnya.

 “Bagi saya semua berproses dengan prinsip keadilan sudah ditegakkan oleh aparat berwajib,” tambah Santoso. J

PU Syahrir Sagir pada sidang lanjutan di PN Surabaya, Selasa (5/9/2023), membacakan tuntutan hukuman kurungan 5 tahun terhadap Samanhudi, mantan orang terkuat di Kota Blitar dan sekitarnya, atas perannya sebagai otak perampokan.

Sebagaimana dikutip Kompas.com, kuasa hukum Samanhudi, Wahyudin, kepada wartawan mengatakan bahwa kliennya sama sekali tidak mengotaki perampokan dan juga tidak sakit hati serta dendam terhadap Santoso. 

Perampokan itu sendiri terjadi pada Senin (12/12/2022) dini hari di rumah dinas Wali Kota Blitar di Jalan Sodanco Supriyadi dimana Santoso dan Istri sedang beristirahat.

Setelah melumpuhkan penjaga, kawanan perampok sempat melakukan penganiayaan terhadap Santoso sebelum membawa kabur uang tunai sekitar Rp 700 juta serta sejumlah perhiasan berharga milik Santoso dan istrinya.

Empat orang dari kawanan perampok itu berhasil ditangkap polisi sekitar 1 bulan setelah kejadian. Selanjutnya, anggota Jatanras Polda Jatim menangkap Samanhudi atas sangkaan terlibat dalam perampokan. (red.IY)


Thursday, August 31, 2023

Kecelakaan Maut di Jalur Kediri-Blitar, 2 Meninggal Dunia

  


Blitar, rakyatindonesia.com – Kecelakan maut terjadi di jalur Kediri-Blitar tepatnya di Jalan Raya Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Mobil bak terbuka yang mengangkut bawang merah menabrak sepeda motor.

Dua korban meninggal dunia dalam kecelakaan ini. Sementara, dua lainnya mengalami luka-luka.

Sementara sopir dan kernet mobil bak terbuka tersebut, mengalami luka luar. Selain menabrak pengendara sepeda motor, mobil bak terbuka itu juga menabrak teras rumah warga yang berada tepat di samping jalan raya. Akibatnya teras rumah warga itu pun ambruk.

“Ada dua korban meninggal dunia dalam kecelakaan tadi pagi sementara 2 lainnya mengalami luka,” kata Kasatlantas Polres Blitar Kota, AKP Mulya Sugiharto, Kamis (31/8/2023).

Peristiwa ini terjadi saat mobil bak terbuka yang dikendari oleh Samjuri dan Sofian warga Nganjuk melaju kencang dari arah Kediri menuju Blitar. Setibanya di perempatan jalan raya Karanggondang, tiba-tiba menyeberang sepeda motor yang dikendarai oleh Kadir dan Winarsih.

Kerana kecepatannya tinggi dan jaraknya terlalu dekat, mobil bak terbuka tersebut tidak bisa menghindar. Kadir dan Winarsih yang mengendarai sepeda motor pun tertabrak dengan keras dan terseret.

Mobil bak terbuka itu baru berhenti setelah menghantam teras rumah warga yang ada tepat di pinggir jalan raya Karanggondang. Kadir dan Winarsih pun meninggal dunia di lokasi kejadian karena mengalami luka serius di bagian kepala dan kaki.

“Jadi mobil pikap ini melaju dari utara ke selatan setibanya di perempatan jalan Karanggondang melaju dari arah barat ke timur sepeda motor, karena jaraknya dekat kecelakaan pun tidak bisa dihindarkan,” kata Mulya.

Diduga kecelakaan ini terjadi lantaran pengendara sepeda motor yang merupakan anak dan bapak itu tidak memperhatikan arus lalu lintas saat hendak menyeberang. Sehingga kendaraan bak terbuka yang membawa bawang merah tersebut tidak bisa menghindar.

Kini seluruh kendaraan yang terlibat kecelakaan telah dibawa ke Mapolsek Udanawu. Sementara untuk korban meninggal telah dibawa ke RSUD Srengat. Kedua korban luka pun juga langsung dilarikan ke RSUD Srengat untuk menjalani perawatan medis.

“Kedua korban meninggal sudah dibawa ke RSUD Srengat dan korban luka juga sudah dilakukan penanganan medis,” tutupnya.

Kini warga tengah membersihkan puing bangunan teras rumah yang ambruk akibat ditabrak oleh mobil bak terbuka tersebut. Sementara kasus kecelakaan ini kini tengah ditangani lebih lanjut oleh Unit Laka Lantas Polres Blitar Kota. (red.IY)

Tuesday, August 29, 2023

Nestapa Warga Tlogo Gentong Blitar Angkat Kaki dari Kampung

  


Blitar, rakyatindonesia.com –  2019 menjadi awal kesedihan warga Kampung Tlogo Gentong di lereng Gunung Kawi, masuk kawasan Blitar. Karena di tahun itu warga Tlogo Gentong diminta untuk pindah dari kampung yang telah mereka tempati puluhan tahun lamanya.

Awal tahun itu, ada 2 kepala keluarga (KK) yang terpaksa angkat kaki dari kampung terluar dan terakhir di Kabupaten Blitar tersebut. Salah satu yang terpaksa pergi adalah Mesinem.

Nenek 14 cucu itu terpaksa angkat kaki dari Tlogo Gentong setelah diimbau perusahan teh tempatnya dulu bekerja untuk meninggalkan kampung kelahirannya. Imbauan tersebut pun terpaksa dibuat lantaran perusahaan teh itu telah bangkrut.

Pihak perusahaan tidak bisa memberikan jaminan upah sekaligus pekerjaan bagi warga Tlogo Gentong. Kondisi ini berdampak langsung terhadap 16 KK di Tlogo Gentong, yang selama ini mengandalkan hidup sebagai buruh petik teh.

Tanah yang ditempati warga tersebut juga berada di area perkebunan teh yang merupakan kawasan HGU PT. Sari Bumi Kawi. Imbauan itu pun membuat Mesinem memutuskan untuk pergi dari kampung Tlogo Gentong ke permukiman baru yang telah disiapkan.

Dengan berat hati, nenek 14 cucu itu pun memutuskan untuk angkat kaki dari tanah kelahirannya.

“Wonten mriki mboten wonten pegawean lak mboten pados kiambak, mboten wonten ladang, pokok diwei omah yowes omah tok, embuh lakmu golek ekonomi (di sini tidak ada pekerjaan yang disiapkan kalau tidak cari sendiri. Tidak ada lahan juga, cuma dikasih rumah saja),” kata Mesimen, warga Tlogo Gentong.

Di perkampungan baru, Mesinem mendapatkan rumah permanen dengan luas sekitar 6 kali 8 meter. Rumah ini telah disiapkan oleh PT. Sari Bumi Kawi.

Meski mendapatkan fasilitas yang lebih nyaman, kesedihan masih membekas di hati Mesinem lantaran harus meninggalkan perkampungan tempat dia dilahirkan. Kesedihan itu semakin terasa saat mengetahui di perkampungan baru ini, Mesinem tidak mendapatkan lahan garapan.

Ia dan suami pun terpaksa menjadi pemelihara kambing untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kini setelah 4 tahun tinggal di perkampungan baru, Mesinem kerap bolak-balik ke Tlogo Gentong untuk mencari rumput bagi kambing peliharaannya.

“Enjih kaet alit kulo wonten mriko, ket taun pinten niko, taun seket lak mboten klintu, riyen mriko rame, mas, penguruse mati, dadi susah (iya dari kecil saya sudah di sana, sejak tahun berapa dulu kalau tidak salah tahun 1950 kalau tidak salah, dulu di sana ramai, mas, dulu ada pengurusnya, pengurusnya meninggal sekarang warga jadi susah),” ungkapnya.

Berpindahnya Mesinem pada 2019 itu, ternyata diikuti oleh warga yang lain. Tahun demi tahun, satu persatu warga di Tlogo Gentong terpaksa angkat kaki dari perkampungan yang asri dan sejuk itu.

Kini di tahun 2023, hanya ada 4 kepala keluarga saja yang masih tetap tinggal di perkampungan Lereng Gunung Kawi tersebut.

Duko sakniki tasik pinten seng neg duwur, tapi paling 3 opo 4 omah wae seng nek kono (tidak tahu tepatnya tapi mungkin sekarang tinggal 3 atau 4 rumah saja di sana),” tutup nenek 14 cucu itu. (red.IY)

Monday, August 28, 2023

Tangani Dampak Elnino Polisi Beri Bantuan Puluhan Ribu Liter Air Bersih Untuk Warga Pasuruan

                     

PASURUAN, rakyatindonesia.com – Sebagai wujud nyata Bakti Polri untuk Masyarakat, Polres Pasuruan Polda Jatim melaksanakan Bakti Sosial berupa penyaluran dan pembagian air bersih kepada Masyarakat terdampak kekeringan.


Kali ini Polres Pasuruan jajaran Polda Jatim itu menyalurkan puluhan ribu liter air bersih untuk warga Dusun Jurang Pelen, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.


Hal itu seperti disampaikan oleh Kapolres Pasuruan AKBP Bayu Pratama Gubunagi, S.H., S.I.K., M.Si. saat memimpin langsung kegiatan tersebut dan diikuti oleh Kapolsek Gempol, Danramil Gempol, Camat Gempol, Kades Bulusari, dan para personel Polres Pasuruan, Polda Jatim.


Dengan menggunakan mobil Armoured Water Canon (AWC) milik Sat Samapta Polres Pasuruan sebanyak 10 ribu liter air bersih dibagikan kepada Masyarakat setempat yang terdampak kekeringan.


Kapolres Pasuruan di sela kegiatan mengungkapkan AKBP Bayu Pratama Gubunagi  mengatakan bantuan air tersebut untuk membantu meringankan kebutuhan air di wilayah yang sulit mendapatkan air bersih dari dampak Elnino.


"Sebelumnya kami juga telah melaksanakan penyaluran pembagian Air Bersih di beberapa Kecamatan yang ada di Kabupaten Pasuruan, dan hari ini giliran di Kecamatan Gempol yang menjadi sasaran kami," ucap Kapolres Pasuruan,Jumat (25/8).


AKBP Bayu berharap bantuan tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat Desa Bulusari, mengingat di wilayah tersebut akses mendapatkan air bersih tergolong cukup sulit karena geografis wilayahnya memiliki tanah yang gersang.


"Kami berkoordinasi dengan Muspika setempat untuk selalu rutin bisa menyalurkan air bersih, agar Masyarakat tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari hari,"ungkap AKBP Bayu.


Dilain tempat Kapolsek Pasrepan AKP Supriadi, S.H. didampingi anggota Polsek Pasrepan jajaran Polres Pasuruan dan Perangkat Desa Ngantungan juga melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Penyaluran Air Bersih di wilayah Desa Ngantungan, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan.


Air bersih tersebut di distribusikan di 4 (empat) Dusun di Desa Ngantungan, antara lain Dusun Krajan, Dusun Cumpring, Dusun Daren, dan Dusun Watugentong.


"Kami menyalurkan air bersih sebanyak 10 ribu liter dengan menggunakan Mobil pick up dan Tossa, yang disuplai dari 2 (dua) kendaraan Truck tangki air, agar masyarakat yang akses menuju rumahnya cukup sempit bisa tersalurkan juga," ungkap AKP Supriadi.


Warga masyarakat di Desa Ngantungan Kecamatan Pasrepan sangat antusias setelah mendapat pembagian air bersih yang di realisasikan oleh Pihak kepolisian dalam hal ini Polres Pasuruan Polda Jatim.


"Kami dari warga Desa Ngantungan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada bapak – bapak Polisi, semoga ini bisa dilakukan rutin, dikarenakan musim kemarau yang berkepanjangan dan sumber mata air di Desa Ngantungan yang mulai mengering," kata Agus warga Dusun Krajan. (red.IY)

Tlogo Gentong, Kampung Terasingkan di Lereng Kawi Blitar

   

Blitar, rakyatindonesia.com –  Tlogo Gentong merupakan perkampungan terasing di Kabupaten Blitar. Letaknya di lereng Gunung Kawi yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Blitar.

Secara administratif, Tlogo Gentong menjadi bagian dari Desa Sumberurip, Kecamatan Doko. Berjarak 41 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Blitar, Tlogo Gentong hingga saat ini tampak menjadi perkampungan terangsingkan.

Jalur menuju perkampungan yang telah ada sejak puluhan tahun tersebut cukup sulit dilalui. Tidak ada jalan beraspal, hanya jalur tanah liat berbatu.

Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan hutan dan pepohonan. Suhu dingin langsung menusuk tubuh saat memasuki perkampungan Tlogo Gentong yang berada di lereng Gunung.

Secara historis Tlogo Gentong merupakan perkampungan bagi pekerja pabrik teh PT. Sari Bumi Kawi. Warga yang tinggal di perkampungan ini pun sudah turun temurun selama puluhan tahun lalu.

Sejak dulu perkampungan ini juga hanya ditempati oleh belasan kepala keluarga saja. Rumah warga pun hanya berdindingkan kayu atau semi permanen. Tidak ada listrik. Apalagi jaringan internet.

Menurut warga setempat, jaringan listrik dari turbin masuk ke kampung Tlogo Gentong sekitar tahun 2000-an. Sebelum itu, warga hidup dalam kegelapan atau mengandalkan diesel yang akan padam pada pukul 21.00 WIB.

Enjih kaet alit kulo wonten mriko, ket taun pinten niko taun seket lak mboten klintu, riyen mriko rame (iya dari kecil saya sudah disana, sejak tahun berapa dulu kalau tidak salah tahun 1950 kalau tidak salah, dulu di sana ramai,” ungkap Mesinem, warga Tlogo Gentong, Senin (28/8/2023).

Perkampungan ini terbentuk, karena banyaknya pekerja dan buruh petik teh pabrik PT. Sari Bumi Kawi. Para buruh memilih membuat rumah di sekitar perkebunan teh agar tidak capek pulang pergi, hingga akhirnya terbentuklah perkampungan Tlogo Gentong.

Menurut warga, Tlogo Gentong berdiri jauh sebelum Dusun Sumberurip ada. Seluruh warga Tlogo Gentong pun adalah pekerja pabrik teh PT. Sari Bumi Kawi.

“Enggih riyen nyambut wonten pabrik, mboten nganti luwe teng pabrik, diwei beras mengke bayaran 15 dino pisan beras 15 dino pisan, tenan lo mas kui mbah e kaet cilik kok (Iya dulu bekerja di pabrik, tidak sampai kelaparan dikasih beras, gajian setiap 15 hari, dikasih beras setiap 15 hari sekali, benar lo itu mas, saya dari kecil di sana kok),” cerita perempuan tua yang duduk emper rumahnya itu.

Meski terasingkan dan minim fasilitas publik, para buruh petik teh merasa nyaman tinggal di Tlogo Gentong. Di kampung ini mereka menikah dan memiliki banyak anak.

Bagi warga, Tlogo Gentong merupakan tempat paling nyaman dan tenteram. Tidak terbersit dalam pikiran warga untuk pergi atau keluar dari Tlogo Gentong demi mencari tempat tinggal yang lebih nyaman.

Namun kenyataan tidak sejalan dengan harapan warga. PT. Sari Bumi Kawi yang menaungi para buruh petik teh bangkrut.

Tanaman teh yang biasa dipetik oleh warga pun beralih menjadi perkebunan kayu. Para pekerja pun kehilangan mata pencahariannya.

Sebagian warga memilih untuk bercocok tanam di lahan milik perkebunan dan lainnya memilih untuk beternak kambing demi bisa mempertahankan hidup.

“Halah ditanemi mawon sakjane mboten asal la pripun timbang mboten aangsal panganan lan yotro (sebetulnya tidak boleh ditanami tapi gimana lagi dari pada tidak bisa makan dan tidak dapat uang),” tutupnya.

Kini sebagian besar warga Tlogo Gentong telah pergi meninggalkan perkampungannya. Mereka kini menempati rumah yang dibuatkan oleh perusahan perkebunan teh di Desa Sumberurip Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. (red.IY)

Saturday, August 26, 2023

Kronologi Siswa MTs di Blitar Meninggal Dianaya di Kelas

  

Blitar, rakyatindonesia.com –  AJH, siswa kelas 9 MTs di Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar meninggal dunia setalah dianiaya oleh rekan sekalasnya yang berinisial KMW. Penganiayaan itu ternyata terjadi di dalam kelas pada jam pergantian guru.

Saat itu, pelaku KMW tersinggung dengan perkataan korban pada hari sebelumnya. Pelaku tiba-tiba masuk ke dalam kelas korban.

Pelaku yang juga masih berstatus murid kelas 9 di sekolah itu langsung menghampiri korban yang duduk di bangkunya. Sembari berteriak, pelaku langsung melayangkan pukulan ke bagian tubuh korban.

Diketahui pukulan itu dikalakukan pelaku sebanyak tiga kali dan mengenai organ vital, tengkuk kepala belakang, dan dada-ulu hati korban. Seketika korban langsung tersungkur dari tempat duduknya.

“Pelaku masuk kelas 9, menuju tempat duduk korban, sambil teriak-teriak. Teman-2 di kelas 9.5 sudah berusaha menghalangi, tetapi terlepas. Saat itu, pelaku menghampiri tempat duduk AJH (korban) dan langsung memukul sampai 3 kali,” kata Baharuddin, kasi Penma Kemenag Kabupaten Blitar, Sabtu (26/8/2023).

Usai terjatuh, korban oleh rekan-rekan sekelasnya langsung dibawa ke UKS. Di UKS, korban sudah tidak sadarkan diri, setelah itu para guru langsung melarikan AJH ke RSU RSU Al-Ittiqad Srengat

“Dari pemeriksaan Rumah Sakit di UGD (20 menit), kondisi korban sudah tidak tertolong, dinyatakan meninggal dunia,” Ungkapnya.

Menurut pihak sekolah kemarahan pelaku ini dipicu hal sepele. Pada Kamis (24/8/2023), pelaku ditegur korban karena masuk ke kelasnya pada jam istirahat.

Ternyata teguran AJH itu membuat KMW tersinggung. Hal itulah yang diduga membuat pelaku menaruh dendam hingga nekat menghajar korban pada waktu pergantian jam di dalam kelas.

Diketahui pelaku dan korban memang sama-sama kelas 9 MTs. Namun keduanya berbeda ruangan kelas.

“Pelaku KMW, siswa jelas 9.7 masuk ruang kelas 9.5 pada jam istirahat. Oleh siswa AJH (korban) dibilangin, ‘Kenapa masuk kelas lain’. Rupanya, pelaku merasa tersinggung,” tutupnya.

Sementara itu, Satreskrim Polres Blitar yang mendapati laporan tersebut langsung mendatangi lokasi. Pelaku penganiayaan yang merupakan siswa kelas 9 MTs tersebut juga langsung dibawa oleh Satreskrim Polres Blitar untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Pelaku hingga kini masih dimintai keterangan di Mapolres Blitar Kota. Hal itu dilakukan untuk mengungkap kronologi kejadian dan motif dari pelaku menghabisi nyawa temannya sendiri.

“Untuk pelaku saat ini sedang ditangani unit PPA Satreskrim Polres Blitar Kota,” kata Kapolres Blitar Kota, AKBP Danang Setiyo, Jumat (25/8/2023).(red.IY)

© Copyright 2020 Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA | All Right Reserved