Wednesday, May 15, 2024

Gara-Gara Tidak Di Belikan Motor, Seorang Anak Tega Menghabisi Nyawa Ibu Kandungnya Sendiri

SUKABUMI, rakyatindonesia.com - Pemuda bernama Rahmat (26), kehilangan akal sehatnya, lalu membunuh ibu kandungnya Inas (45), gara-gara tak dibelikan sepeda motor

Rahmat dan ibunya, Inas, warga Kampung Cilandak, Desa Sekarsari, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Perbuatan yang dilakukan Rahmat membuat warga sekitar geram. Polisi pun bertindak cepat mengamankan Rahmat untuk mempertangungjawabkan perbuatannya.

Kapolsek Kalibunder, Iptu Taufik Hadian, membenarkan peristiwa anak bunuh ibu kandung tersebut.

Ia mengatakan, pelaku yang merupakan anak korban bernama Rahmat (26) telah diamankan di Polsek.

"Pelaku sudah diamankan, ini lagi olah TKP, iya (bunuh ibu sendiri), korban Inas (45), pelaku anak kandung," kata Taufik kepada Tribun via telepon, Selasa (14/5/2024).

Pelaku dikabarkan membunuh ibunya menggunakan garpu tanah, garpu tanah ditusukan pelaku ke tubuh ibunya sendiri.

Pelaku disebut-sebut nekat membunuh ibunya karena tak dibelikan sepeda motor.

Namun, mengenai kebenaran motif pelaku, polisi saat ini masih melakukan pemeriksaan.

"Nanti, kita periksa dulu, tersangka di kantor, ini kita lagi cek TKP dulu. Kita lagi pastikan dulu, tadi waktu saya ke TKP pelaku langsung diamankan diperiksa," tutur Taufik. (red.R) 


Saturday, April 20, 2024

Mereka yang Tetap Setia Berjaga di Pos PAM Meski Libur Lebaran Berlalu

 




Sukabumi
, rakyatindonesia.com - Saat kebanyakan orang sudah selesai menjalankan aktivitas mudik, bersilaturahmi dan berkumpul dengan keluarganya, sejumlah personel Pos PAM masih masih setia berada di jalanan. Memantau aktivitas kendaraan dan wisatawan yang masih saja berdatangan terutama di akhir pekan ini.
Salah satunya adalah Kompol Roni Haryanto, Kapolsek Palabuhanratu, Resor Sukabumi. Ia adalah polisi yang membopong ibu hamil di tengah kepadatan kendaraan pada Minggu (14/4/2024) lalu. Meskipun hiruk pikuk arus mudik telah berlalu, kehadirannya tersebut adalah bukti tegar dari pengabdian seorang anggota polisi.

"Sekarang teknologi kan sudah maju, udah canggih. Mengobati rasa rindu bisa melalui video call. Silaturahmi juga bisa lewat online, walau belum mudik hal itu sudah cukup," kata Roni kepada detikJabar, Jumat (19/4/2024) petang.

Diketahui, Kapolres Sukabumi AKBP Tony Prasetyo telah mengakhiri Operasi Ketupat Lodaya pada Selasa (16/4). Meski begitu, ia mengarahkan anggotanya untuk tetap menjalankan kegiatan rutin kepolisian yang ditingkatkan atau KRYD.

"Sesuai arahan bapak kapolres, kita tetap melakukan penjagaan seperti biasa. Karena wisatawan masih ada yang berdatangan, saat operasi kemarin juga all out semua anggota berjaga di Pos PAM, siang dan malam sudah biasa. Yang penting, support vitamin juga dari Polres dari medis juga cukup," tuturnya.

Desir debu jalanan terasa kasar menyapu wajah, Roni mengusapnya perlahan menggunakan sehelai kain yang sudah terlihat lusuh. Matanya berbinar saat ditanyakan kondisi ibu yang ia bopong karena akan melahirkan di tengah kepadatan arus lalu lintas.

"Sudah, informasinya sudah melahirkan alhamdulillah bayinya laki-laki beratnya 3,9 kilogram. Melahirkan sekitar pukul 22.30 WIB, ya Minggu malamnya ya," kata Roni.

"Saya belum sempat melihat atau nengok, hanya dikabari oleh pihak rumah sakit katanya alhamdulillah anaknya sehat jenis kelamin laki-laki. Ibunya juga selamat," sabungnya.

Roni menekankan, hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa, namun sudah menjadi tugas dari seorang polisi. Teriakan minta tolong dari sopir saat itu adalah respon atas keselamatan sang ibu.

"Posisinya dari kedua arah padat kendaraan, mau menyalip enggak bisa. Akhirnya sopir dogong (pikap) itu meminta tolong teriak, saya spontan menghampiri dan berkoordinasi dengan tim medis suaya ambulans mendekat, kemudian saya bopong ke ambulans karena si ibunya terlihat sudah lemah, itu hal biasa karena sudah menjadi tugas kami," tuturnya.

Dihubungi terpisah, Kapolres Sukabumi AKBP Tony Prasetyo mengatakan, pihaknya memang belum secara total menghentikan kegiatan pengamanan. Tony menyebut, sebagai lokasi wisata, petugas diharapkan bisa bekerja ekstra.

"Selesai Operasi Ketupat Lodaya berlanjut KRYD, masih ada 272 personel yang masih bertugas seperti biasa. Mulai tanggal 17 sampai tanggal 23 April nanti," kata Tony.

Ia pun menjelaskan, KRYD dilakukan selepas operasi ketupat sebagai bentuk antisipatif karena prediksi belum semua pemudik ikut dalam arus balik.

"Antisipatif, karena prediksi kami belum semua pemudik sudah pada balik walaupun momen mudik lebaran sudah usai dan sebagian masyarakat sudah kembali masuk kerja secara normal," jelasnya.

Tony tidak membantah, banyak personelnya yang belum pulang kampung dan berkumpul bersama keluarganya. Namun hal itu sudah menjadi kewajiban dalam menjalankan tugas.

"Saya saja belum mudik kang, bagaimanapun sudah kewajiban. Saya juga apresiasi kepada anggota yang masih setia berjaga di lapangan hingga hari ini. Terlebih, lokasi wisata di akhir pekan ini juga harus mendapat perhatian agar wisatawan bisa datang dengan nyaman dan aman," pungkas Tony.

(red.alz)

Thursday, April 18, 2024

Dilema Tumpukan Sampah di Jalur Masuk Geopark Ciletuh Sukabumi

 


Sukabumi
, rakyatindonesia.com  - Persoalan tumpukan sampah di dekat Jembatan Bagbagan, ruas jalan Bagbagan - Pajampangan yang merupakan salah satu jalan utama masuk ke kawasan wisata Geopark Ciletuh, ternyata membuat bingung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi.
Kebingungan ini dipicu lokasi penempatan bak berupa kontainer untuk penampungan sementara sampah-sampah tersebut. "Masalah sampah di Jembatan Bagbagan sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Kita sudah sepakat antara DLH, desa dan kecamatan mau menempatkan bak kontainer yang besar isinya lumayan besar ya bisa sampai 6 kubikan. Hanya kita kesulitan mencari lahannya," kata Subkordinator Bidang Pengangkutan Sampah, DLH Kabupaten Sukabumi, Endang Suherman kepada detikJabar, Kamis (18/4/2024).

Menurut Endang, kawasan itu padat permukiman penduduk, penempatan di ujung jembatan juga tidak memungkinkan karena ukuran bak kontainer tersebut cukup besar. Koordinasi sudah kerap dilakukan baik itu dengan desa maupun kecamatan. Namun warga tetap menolak.

"Kita sudah dengan kades, dan kecamatan, banyak warga tidak menerima. Misalkan ditempatkan kontainer, itu sudah beberapa kali, sampai camat beberapa kali ganti sudah kita inikan. Kita DLH sudah siap menempatkan kontainer, masalahnya ya itu tadi, warga menolak," ujarnya.

"Harus dibuka lagi komunikasi warga dan pihak desa juga kecamatan, kita ke arah Mariuk kita survei, ke arah Cihurang juga sudah kita survei hanya warga memang yang namanya bak sampah kan bau kalau dekat permukiman warga," sambung Endang.

Senada dengan Endang, Kepala Desa Cidadap Deden Anta Nurman membenarkan soal penolakan warga tentang pembangunan bak sampah. Tidak tersedianya lahan menjadi persoalan.

"Persoalan sampah milarian (mencari) solusinya bingung, untuk tempat pembuanganya. Secara faktanya yang membuang sampah itu adalah warga di luar Cidadap, kenapa begitu karena di Cidadap mulai dari (Kampung) Selakopi, Cihurang, Babakan Lebu Ranca Reunghas sering pengangkutan sampah dua kali seminggu. Bahkan di dekat Mariuk ada kendaraan pengangkut sampah," beber Deden.

Berdasarkan informasi dari warganya, Deden mengaku kerap menerima laporan, mereka yang membuang sampah bukanlah warga dari desanya. Ia mencontohkan seharusnya memang ada petugas khusus yang mengawasi dan menegur kepada oknum warga yang membuang sampah di dekat jembatan.

"Harus ada penjagaan, berbagai solusi pernah dilakukan sampai beberapa kali berganti camat dipasang peringatan tapi ya tetap saja ada yang ngeyel. Padahal ada Undang-undang dan aturannya namun enggak mempan," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, tumpukan sampah terlihat berjajar berserakan di pinggir Ruas Jalan Raya Bagbagan - Pajampangan atau tepatnya di bahu jalan dekat Jembatan Bagbagan, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Sebuah baliho berukuran sedang lengkap dengan foto dan tulisan Kang Asep berisi ucapan selamat Ramadan, memberi kesan seolah memelototi deretan sampah tersebut. Kang Asep adalah Asep Japar, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi.

"Kesannya beliau lagi memerhatikan sampah di tempat itu yang memang tidak enak dipandang. Mudah-mudahan jadi perhatian pihak dinas terutama kebersihan, agar tidak ada lagi sampah menumpuk di situ. Karena setiap hari pasti ada saja yang membuang ke tempat itu," kata Ujang Achir, pengguna jalan yang ditemui detikJabar, Kamis (18/4/2024).

(red.alz)

Friday, February 9, 2024

Jelang Pencoblosan, Mahfud Md Minta Masyarakat Tak Terpengaruh Survei

 


Sukabumi, rakyatindonesia.com - Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 03 Mahfud Md menghadiri kegiatan istigasah bersama ribuan masyarakat di Alun-alun Cicurug, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jumat (9/2/2024). Lima hari menjelang pencoblosan, dia memberikan pesan kepada masyarakat untuk memilih pemimpin sesuai hati nurani.


"Pemungutan suara tinggal 5 hari lagi, tanggal 10 (Februari 2024) hari terakhir kampanye, saya berharap masyarakat kemudian sesudah itu masuk ke hari-hari tenang, dan di hari-hari tenang itu diharapkan semua melakukan kontemplasi untuk memilih pemimpin berdasarkan hati nurani, memilih pemimpin yang benar berdasarkan nurani masing-masing," kata Mahfud kepada awak media.


Dia juga berpesan agar masyarakat tidak terpengaruh dengan hasil survei, termasuk berita-berita bohong. Mahfud juga meminta agar warga datang ke TPS-TPS.


"Jangan terpengaruh oleh survei, oleh berita-berita yang mungkin hoaks tetapi direnungkan baik-baik, lalu nanti tanggal 14 Februari semuanya datang ke TPS dengan penuh tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan NKRI," ujarnya.


Selain itu, Mahfud juga berbicara terkait sifat-sifat pemimpin yang harus dipilih dan tidak dipilih. Hal itu disampaikan saat ia memberikan sambutan dalam acara istighosah akbar.


Dia mengatakan, istigasah ini untuk memohon doa agar diberikan yang terbaik bagi Indonesia, termasuk memilih pemimpin di tingkat DPRD, DPD, DPR hingga Presiden dan Wakil Presiden.


"Memilih pemimpin itu utamanya menurut agama sidik, amanah, tablig, fathonah. Ini pemimpin yang jujur, amanah, bertanggungjawab diberi tugas melaksanakan," jelasnya.


Kemudian dia juga meminta agar warga tidak memilih pemimpin yang munafik. Mahfud menukil hadist riwayat Bukhari tentang tiga tanda orang-orang munafik.


"Kalau dalam hadist Rasul itu orang munafik tandanya ada tiga, kalau orang melekat salah satu saja dari tiga ini jangan dipilih, dosa dalam memilih pemimpin sudah tahu tidak benar masih dipilih juga," katanya.


"Yang tidak boleh kita jadikan pemimpin bahkan jadikan teman, kalau ngomong bohong, berjanji itu juga bohong, kalau berjanji inkar, kalau saya anggota DPR mau buat ini, kalau saya Presiden buat ini tapi bohong, nggak masuk akal. Itu munafik. Kalau dipercaya berkhianat," sambungnya.


Mahfud juga menerangkan terkait orang yang boleh dipilih sebagai pemimpin berdasarkan kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah (hukum tata negara) yaitu Al-Alim, Al-Adil dan Zuhud.


"Jangan memilih pemimpin yang tidak sehat rohani dan jasmani karena orang yang tidak sehat itu dia tidak produktif. Kalau fisiknya sehat rohaninya tidak sehat itu berbahaya. Orang rohaninya tidak sehat, ya banyak penyakit rohani satu tamak, dengki, pemarah, emosional, labil, dan macam-macam. Ada pemikirannya yang tidak stabil bahaya," ucap dia.


"Sebaliknya yang rohani sehat badannya nggak sehat, nggak bagus. Badannya ringkih nggak bisa memimpin, oleh sebab itu dalam kitab itu sangat tepat ukuran-ukuran memilih pemimpin," tutupnya.



Sekadar informasi, lembaga survei Indikator Politik Indonesia kembali merilis hasil survei peta elektoral Pilpres 2024 di akhir masa kampanye. Dalam survei Pilpres 2024, Prabowo-Gibran berada di peringkat pertama dengan 51,8 persen. Sementara posisi kedua ditempati Anies-Muhaimin dengan 24,1 persen serta Ganjar-Mahfud 19,6 persen.(red.w)

Monday, February 5, 2024

Semringah Misbah Dapat Pupuk Nonsubsidi Murah di Sukabumi

 




Sukabumi, rakyatindonesia.com - Ribuan petani dari sejumlah desa di Kabupaten Sukabumi turut berburu diskon pupuk nonsubsidi yang dijual di Gudang Pupuk Penyangga (GPP) Lini III, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Senin (5/2/2024). 


Para petani itu menukarkan kupon untuk mendapatkan dua jenis pupuk, yaitu pupuk urea nitrea dan pupuk NPK Phonska Plus.
Misbahudin (29), salah satu petani asal Kampung Kebon Kai, Desa Ciheulang Tonggoh salah satunya. Dia tersenyum semringah usai mendapatkan satu paket dua pupuk tersebut.


"Alhamdulillah sangat membantu, biasanya kan kalau saya beli ke toko pupuk NPK biasanya harganya Rp270 per 25 kilogram kalau nitrea biasanya harganya mencapai Rp340 per 50 kilogram," kata Misbah kepada detikJabar di lokasi.


Dia merasa bersyukur lantaran mendapatkan pupuk dengan harga murah. Pasalnya, kata Misbah, selama ini dia kesulitan mendapatkan pupuk untuk memenuhi kebutuhan menanam cabai dan timun seluas 1,5 hektare.


"(Selama ini) sulit banget, biasanya saya mendapatkan 3,5 kwintal, sekarang cuma 1 kwintal dapatnya. Yang subsidi mah mudah cuman yang non subsidi mahal. Hampir tiga tahun (kesulitan) baru sekarang dapat yang murah," ujarnya.


"Sekarang Alhamdulillah dengan uang Rp270 ribu dapat 50 kilogram. Kalau dihitung-hitung ya (pupuk) nitreanya kaya gratis lah, Alhamdulillah tasyakur bin nikmah," sambungnya.


Misbah mengatakan, dengan menghemat harga 40 persen, dia bisa mengalihkan uang untuk kebutuhan rumah tangga lainnya. Menurutnya, 50 kilogram pupuk itu biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan satu kali tanam.


"Ini biasanya satu karung untuk satu kali pemakaian. Alhamdulillah lebih hemat," kata dia.


Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik Robby Setiabudi Madjid menambahkan, gebyar diskon pupuk nonsubsidi ini dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan. Pihaknya menyediakan 5.000 kupon dan 250 ton pupuk khusus untuk Kabupaten Sukabumi.


"Memang anggaran pupuk 2024 di seluruh Indonesia ini hanya tersedia 5,2 juta ton. Nah ini Alhamdulillah pemerintah berencana menambah anggaran itu 2,1 juta ton sehingga total sekitar 7,3 juta ton anggaran pupuk subsidi," kata Robby.


"Namun tambahan anggaran yang 2,1 juta ton itu mungkin di level pemerintah memerlukan waktu proses, nah kami dari produsen pupuk takut atau khawatir teman-teman petani kehilangan momen untuk menanam di musim tanam I ini. Oleh karena itu kami punya program diskon pupuk agar kekurangannya sementara bisa menggunakan pupuk nonsubsidi yang kami diskon," tambahnya.


Dia mengatakan, diskon potongan harga 40 persen ini berlaku sampai awal Maret 2024 dan disalurkan secara bertahap. Petani hanya perlu membawa kupon yang sudah dibagikan dan membawa fotocopy KTP.


"Ini sampai akhir bulan bahkan sampai awal Maret. Nanti kita tinjau ulang kalau memang animonya bagus, mungkin ada di review lagi selanjutnya," ucap dia.


Terkait stok pupuk di Gudang Lini III Cibadak, pihaknya memastikan stok tersebut akan mencukupi hingga 6 sampai 8 minggu ke depan.


"Nah ini coba lihat keliling, penuh gudang kita. Jadi sebenarnya kalau kita di gudang ini lihat kanan kiri pupuk tersusun rapi dan di Sukabumi ini stok sudah kita siapkan 2.000 ton urea dan 2.700 ton NPK. Itu stok yang saat ini tersedia, cukup kurang lebih 6-8 minggu kebutuhan, kalau nanti diambil akan kita restock lagi," tutupnya.(red.w)

Saturday, January 27, 2024

Teror Sang Mantan Kekasih Istri di Balik Pembacokan Pria Sukabumi

 


Sukabumi, rakyatindonesia.com - Prang..!! Suara kaca pecah membuat Ajun Junaedi (52) terjaga dari tidurnya. Di tengah rasa kantuk yang masih mendera waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB. Ia kemudian memeriksa asal suara tersebut.


Warga Kampung Leuwi Keris, Desa/Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi itu kemudian diserang menggunakan Patik, semacam kapak kecil yang biasa digunakan untuk mengupas kelapa. Ia kemudian tumbang bersimbah darah.


"Jam empat sedang tidur semua, saya tidur di kamar dengan anak paling gede, bapaknya di ruangan lain sama anak yang paling kecil, satu lagi di kamar. Saat itu ada suara kaca pecah semua kan keluar. Saya saja keluar apalagi bapaknya di ruangan (paling dekat)," kata Ela istri Ajun kepada awak media, Sabtu (27/1/2024).


Saat itu Ela melihat sesosok pria yang dia kenali, putranya yang ikut terbangun juga melihat dan mengenali pria tersebut. Ela bergegas keluar lewat pintu samping rumah untuk mencari pertolongan.


"Saya keluar kamar pelaku sudah ada di ruangan, saya keluar rumah lewat jalan sini, langsung teriak-teriak, sampai lompat meminta pertolongan sama tetangga masih pada tidur belum pada bangun. Ia (kenal) tahu pelakunya, anak saya paling kecil yang 12 tahun juga lihat, karena kenal dan sudah pernah ketemu," ujarnya.


Ela kemudian mengisahkan hubungannya dengan pelaku, dahulu saat berpisah dengan suaminya dia pernah menjalin kasih dengan pria tersebut selama 1,5 tahun. Bahkan pelaku meminjam uang sebesar Rp 32 juta kepada Ela sampai akhirnya Ela memilih kembali kepada suaminya.


"Dia itu pinjam uang Rp 32 juta, sampai sekarang belum di bayar waktu dulu saya balikan lagi (dengan suaminya), kan mungkin dendam atau gimana. Dia sempat mukul saya sampai saya ke rumah sakit di visum, sempat ke polsek juga. Itu kan dibereskan kekeluargaan sudah," ungkapnya.


"Sampai sekarang saya masih suka ngontak datang ke rumahnya (menagih utang) terus dia bilang begini kalau misalkan lu pisah sama suami saya bayar utang, kalau lu masih sama suami saya enggak akan bayar utang. Dia juga begitu sempat mancing-mancing ngajak ketemu mau bayar utang, saya enggak nyamperin karena enggak bakal bayar utang," tambah dia.


Teror sang mantan kembali berlanjut. Ela menceritakan, beberapa waktu lalu dia sempat ke daerah Cicurug karena ada keperluan. Saat itu dia diantar oleh warga, motor miliknya dihentikan, tas dan telepon selulernya dirampas.


"Saya ketemu sama si (pelaku) itu, pas di somang (selokan) dia ngikutin motor saya lalu diberhentiin turun katanya. Tas saya diambil hp saya diambil. Warga yang antar saya tidak lama kemudian juga dianiaya pakai batu, sempat masuk rumah sakit hanya sudah pulang," lirih Ela.


Ela berharap pelaku segera ditangkap, karena sudah beberapa kali menebar teror. "Ingin dia mendapat hukuman berat, itu saja," pungkasnya.


Diberitakan, Ajun Junaedi (52) warga Kampung Leuwi Keris, Desa/Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi terkapar bersimbah darah oleh pria yang diuga sebagai mantan kekasih istrinya.


peristiwa itu terjadi sekitar pukul 04.00 WIB, Sabtu (27/1/2024). Saat kejadian korban tengah beristirahat dengan anaknya yang paling kecil, sementara istrinya di kamar lain dengan anaknya yang besar.


Tiba-tiba, Ajun terbangun setelah mendengar suara kaca ruang tamu yang pecah, saat melesat ke arah asal suara ia dikagetkan dengan kehadiran pria inisial M yang langsung tanpa basa-basi menyabetkan senjata tajam yang melukai tubuhnya.


"Ada yang gedor kaca, saat ditanya ada apa langsung pasang serang saja. Langsung dibacok menggunakan Patik (semacam kapak berukuran kecil untuk mengupas kelapa). Begitu paman saya tergeletak dia langsung melarikan diri," kata Nenti, keponakan korban.


Nenti menggambarkan luka pamannya itu, mulai di bagian wajah, leher hingga punggung hingga berjumlah 10 luka akibat bacokan pelaku.


"Lukanya di sini (bawah dahi), di sini (leher belakang), terus yang ini dua (di punggung), katanya 10 bacokan. Korban sedang tertidur, dengar kaca retak langsung bangun langsung di serang," ujar Nenti.


Nenti menyebut pamannya itu tidak memiliki musuh, karena sosoknya yang pendiam. Jumlah pelaku yang datang pagi tadi itu satu orang dan masuk usai memecahkan kaca jendela ruang tamu.


"Bisa dibilang Mamang (paman) saya pendiam, punya musuh dari mana. Satu orang, pelaku kalau korban kritis di (RSUD) Sekarwangi," lirihnya.


Nenti mengetahui adanya pemicu hingga peristiwa itu terjadi. Namun ia enggan menceritakan karena rasa sungkan karena lebih kepada persoalan keluarga.


"Ada sih dulu sempat ramai juga, enggak mau berkomentar karena rumah tangga. Yang membacok kenal orang sini, hubungannya kurang tahu. Masalah rumah tangga," lirihnya.


Soal itu, akhirnya diceritakan Ela, istri korban. Ia mengenal pelaku karena pernah menjadi kekasihnya. Menurut Ela ia pernah berpisah dengan suaminya (korban) dan menjalin hubungan dengan pria tersebut selama 1,5 tahun sampai akhirnya putus dan ia memilih kembali bersama suaminya.


"Dulunya cerita dulu saya sempat pisah, sampai 1,5 tahun. Dulu itu saya punya hubungan sama dia, lama lah hubungan, terus. Saya kan usaha dia usaha, dia itu pinjam uang Rp 32 juta, sampai sekarang belum di bayar. Waktu dulu saya balik lagi (dengan suaminya), kan mungkin dendam atau gimana," tutur Ela.


Ela juga mengaku sempat dianiaya oleh pelaku usai kembali dengan suaminya. "Dia pernah mukul saya sampai saya ke rumah sakit di visum, sempat ke polsek juga. Itu kan dibereskan kekeluargaan sudah. Sampai sekarang saya masih suka ngontak datang ke rumahnya (untuk menagih uang). Terus dia bilang begini, kalau misalkan lu pisah sama suami saya bayar utang, kalau lu masih sama suami saya enggak akan bayar utang," pungkas Ela. (red.w)

Sunday, January 21, 2024

Mimpi Jadi Nyata Jaenal, Dulu Tengkulak Kini Kepala Desa

 



Sukabumi, rakyatindonesia.com - Setiap orang memiliki mimpi. Berbagai cara mungkin akan dilakukan demi menunaikan mimpi tersebut, salah satunya dijalani pria bernama Jenal Abidin. Tengkulak duren itu sukses meraih cita-citanya dan kini menjabat sebagai kepala desa (Kades).


Jenal menjabat Kades Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, setelah terpilih pada November 2023 silam. Kisah soal Jenal diperoleh  dari warga yang mengenal sosoknya yang memang dekat dengan warga.


"Saya berjualan durian sekaligus menjadi tengkulak, sambil nyambi jadi anggota Linmas di desa. Saya juga warga asli di sini dan mengenal betul desa saya sampai ke pelosok, selama ini kan sering mendengar keluhan dan harapan warga soal desanya," kata Jenal mengawali kisahnya disela kegiatannya bersama warga, Sabtu (20/1/2024).


Jenal saat itu merenung, jiwa kritis Jenal meronta-ronta. Ia ingin membangun desa sementara kemampuan ekonominya juga pas-pasan. Sampai akhirnya ia nekat maju sebagai kades saat ada pemilihan.


"Kepikirannya waktu saya melihat di satu wilayah rusak jalannya, terus keuangan saya terbatas, niat juga besar ingin membangun kampung. Saya awalnya andalin gotong royong, rutin ajak warga berbuat gotong royong. Bangun apa- bangun apa untuk infrastruktur, niat saya benar-benar ibadah karena latar belakang juga orang enggak punya," ujarnya.


"Terus bergerak bersama warga, motivasinya ingin membangun satu wilayah hanya terbatas kemampuan. Kalau saya orang berada mungkin saya pakai uang sendiri, jadi niat ada pingin membangun. Makanya ah coba-coba maju jadi kepala desa sugan we (semoga) hasil," tambahnya.


Tahapan demi tahapan ia ikuti, antara kampanye dengan tidak kampanye tidak ada yang berbeda karena menurut Jenal dia sudah biasa sehari-hari dengan warga. Ia sedikit 'berkenalan' ekstra karena hak pilih mencapai sekitar 3600 lebih. Meskipun begitu, ia menghindari gaya politik uang dengan warga.


"Politik uang, enggak terlalu ya, (biaya) habis nyalon kades enggak banyak. Kopi warga yang malah kadang ngaranterin ke rumah, kalau ada kampanye warga yang siapkan mobil dan sebagainya, dari warga makanan paling ngaliwet," tuturnya.


Menurut Jenal, ia bukan anti politik uang. Namun tidak sampai untuk kepentingan mempengaruhi suara seperti istiah 'Serangan Fajar'. Ia lebih banyak melakukan kegiata sosial, selayaknya sosok Jenal seperti biasa.


"Pasang baligo, atau ketika nengok warga yang sakit tanpa melihat asalnya dari mana bahkan dari desa tetangga pun kalau ada yang sakit saya nengok. Paling pengeluaran untuk semacam itu, ya seperti biasa saja sebelum saya nyalon kades," lirihnya.


"Niatnya yang penting sedekah jariah mengharapkan keberkahan, bukan mengharapkan atau diniati landasan politik. Toh sebelum nyalon jadi kades juga sudah biasa begitu, karena kalau diniatkan politik yang ada sakit hati misalkan membangun apa, dikaitkan sama politik, makanya di ikhlaskan bagian dari ibadah," ungkapnya 


Jenal lebih kepada prinsip pendekatan tanpa politik uang, tanpa berhitung untung dan rugi. Karena menurutnya ketika dia menyebar banyak uang untuk syahwat politik maka ia harus mengganti uang yang keluar ketika terpilih nanti.


"Prinsip lebih kepada pendekatan masyarakat tanpa politik uang, menurut saya uang memang perlu tapi tidak wajib, karena pendekatan yang baik saja cukup. Kalau tidak pakai uang, sosialisasi dan sebagainya perlu hanya sewajarnya, untuk komunikasi, dan sebagainya," tegasnya.


Jenal akhirnya terpilih dengan suara terbanyak dari sekitar 3600 hak pilih yang diperebutkan 3 calon, dia mendapat 2058 suara. Lalu apa yang dijanjikan Jenal saat itu setelah kini terpilih menjadi kades?


"Yang saya janjikan saat itu hanya saya tidak akan berubah, Jenal yang dulu tukang durian, Jenal yang dulu anggota Linmas ya tetap seperti itu walau menjabat sebagai kades seperti biasa seperti Jenal yang warga kenal dahulu, dengan siapapun pemuda, masyarakat, alim ulama dengan siapapun. Kalau janji soal pembangunan enggak, karena pembangunan kan uangnya ada tinggal menerapkan mana yang prioritas, tinggal akses saya untuk membangun desa jadi lebih kuat, tinggal mendorong dan mengejar mana yang hak untuk warga kami di Sukamaju," pungkas Jenal.(red.w)

Saturday, January 13, 2024

Sensi Santap Nasgor Kecombrang di Resto Sukabumi yang Bernuansa Eropa

 


Sukabumi, rakyatindonesia.com - Nasi goreng menjadi menu makanan favorit Indonesia. Kini, sajian nasi goreng telah dipadupadankan dengan berbagai varian salah satunya kecombrang, atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan nama honje.


Tambahan rempah kecombrang dalam nasi goreng memberikan cita rasa yang baru. Aromanya yang unik dan rasanya yang segar jadi sensasi baru saat menyantap hidangan nasi goreng.


Nasi goreng kecombrang ini bisa dinikmati di Hayuka Kopi yang berlokasi di dalam kawasan wisata alam Oasis, tepatnya di Jalan Mayor Mahmud, Sukajaya, Cikole, Kota Sukabumi. Nongkrong dan makan malam di Oasis terasa lebih istimewa karena pengunjung juga disuguhi dengan pemandangan mini Eropa yang hanya ada di Sukabumi.
  


Tak hanya nasi goreng kecombrang, di sana juga tersedia olahan masakan lain termasuk western food seperti sirloin steak, rib eye steak, mie jagoan, tongseng dan lain sebagainya. Bagi pencinta kopi tak perlu khawatir, mereka juga menyediakan menu minuman kopi best seller santorini dengan cita rasa kopi dan asam.



Evi Novia selaku owner mengatakan, Hayuka Kopi merupakan konsep baru di objek wisata Oasis yang diperuntukan bagi kawula muda yang ingin nongkrong santai dengan suasana Eropa.



"Kita buka konsep baru untuk malam ada yang namanya Hayuka Kopi, ini dikhususkan untuk anak muda Sukabumi yang mau nongkrong santai, nyanyi-nyanyi sambil makan dengan suasana Eropa. Kita bikinlah Hayuka Kopi dengan konsepnya dia free tiket masuk," kata Evi kepada detikJabar beberapa waktu lalu.



Selain menunya yang enak dan unik, harganya pun tak menguras kantong anak muda. Menu makanan dan minuman di sana dibanderol dengan harga mulai dari Rp15 ribu sampai Rp45 ribu.

Ada Penginapan Bergaya Eropa



Bukan hanya menjadi spot foto wisata, bangunan vila di Oasis juga bisa disewa oleh pengunjung. Oasis menyediakan cottage dengan bentuk rumah berarsitektur Tudor, atau bangunan arsitektur khas Inggris. Kerangka bangunan dibuat dari balok kayu, namun di bagian dalam cottage dibuat kesan modern dengan konsep open kitchen yang menghubungkan langsung dengan ruang keluarga.



Evi mengatakan, cottage mini Eropa itu merupakan yang pertama kali di Sukabumi dengan konsep 24 jam. Artinya, wisatawan dapat check in-check out dalam kurun waktu yang sama selama 24 jam menginap.



"Bukan sekedar kamar aja, view nya juga bagus. Begitu buka jendela belakang itu menghadap view yang cantik sekali, ada danau, perahu dan suasana wisata Eropa," katanya.



Bila menginap di sini, maka sudah otomatis mendapatkan satu paket fasilitas wisata Oasis. Baik itu tiket naik perahu, kolam renang dan lain-lain.



Penginapan di Oasis terbagi menjadi dua yaitu standar dan family dengan kapasitas mulai dari empat hingga delapan orang. Cottage tipe standar dijual dengan harga Rp800 ribu per malam, sedangkan tipe family dijual Rp1,2 juta. (red.w)


© Copyright 2020 Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA | All Right Reserved