MALANG- Istilah doom spending belakangan semakin sering menjadi perbincangan, terutama di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan finansial. Fenomena ini menggambarkan kebiasaan berbelanja secara impulsif sebagai bentuk pelarian dari stres, kecemasan, rasa takut, atau tekanan yang muncul akibat situasi yang penuh ketidakpastian. Dalam kondisi tersebut, seseorang cenderung melakukan pembelian bukan karena benar-benar membutuhkan suatu barang, melainkan untuk memperoleh rasa nyaman, mengurangi beban pikiran, atau memperbaiki suasana hati untuk sementara waktu.
Perilaku ini semakin mudah terjadi di era digital. Beragam platform belanja daring menawarkan pengalaman bertransaksi yang cepat dan praktis melalui berbagai promo menarik, potongan harga, gratis ongkos kirim, hingga metode pembayaran yang semakin beragam, termasuk layanan buy now, pay later (BNPL) atau pembayaran secara cicilan. Kemudahan tersebut membuat seseorang dapat menyelesaikan transaksi hanya dalam beberapa menit tanpa memiliki cukup waktu untuk mempertimbangkan apakah barang yang dibeli memang benar-benar diperlukan.
Di sisi lain, media sosial juga turut memperkuat munculnya doom spending. Paparan konten mengenai gaya hidup, tren produk terbaru, ulasan dari influencer, hingga promosi yang muncul secara berulang dapat memicu keinginan untuk terus berbelanja. Ketika seseorang sedang mengalami tekanan emosional, dorongan tersebut menjadi semakin sulit dikendalikan sehingga keputusan pembelian lebih didasarkan pada emosi dibandingkan pertimbangan rasional.
Meskipun aktivitas berbelanja dapat memberikan rasa senang dalam waktu singkat, efek tersebut umumnya hanya bersifat sementara. Setelah euforia pembelian mereda, tidak sedikit orang yang justru merasakan penyesalan karena telah mengeluarkan uang untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Jika kebiasaan ini terus berulang, pengeluaran akan semakin membengkak, anggaran bulanan menjadi tidak terkendali, tabungan berkurang, bahkan dapat memicu ketergantungan pada fasilitas kredit atau layanan pembayaran berbasis utang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas keuangan serta meningkatkan tekanan psikologis akibat beban finansial yang terus bertambah.
Para ahli mengategorikan doom spending sebagai bagian dari emotional spending, yaitu perilaku menggunakan uang sebagai cara untuk meredakan emosi negatif. Oleh karena itu, upaya mengatasi kebiasaan ini tidak cukup hanya dengan membatasi frekuensi berbelanja atau menghapus aplikasi belanja dari ponsel. Langkah yang lebih penting adalah mengenali sumber stres yang menjadi pemicu munculnya keinginan berbelanja secara impulsif. Setelah mengetahui penyebabnya, seseorang dapat mencari alternatif yang lebih sehat untuk mengelola emosi, seperti berolahraga, menjalankan hobi, bermeditasi, menulis jurnal, menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman, hingga berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila tekanan emosional dirasakan cukup berat.
Selain itu, membangun kebiasaan mengelola keuangan secara disiplin juga menjadi salah satu cara efektif untuk mencegah doom spending. Menyusun anggaran bulanan, membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja, menetapkan batas pengeluaran, serta memberi jeda waktu sebelum memutuskan membeli suatu barang dapat membantu mengurangi pembelian impulsif. Kebiasaan sederhana tersebut mampu melatih seseorang agar lebih bijak dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih diwarnai berbagai tantangan, menjaga kesehatan finansial menjadi semakin penting. Memahami penyebab dan dampak doom spending dapat membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan yang lebih rasional dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, kondisi finansial yang sehat tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi, mengelola pengeluaran secara bijaksana, serta tetap disiplin dalam menghadapi berbagai tekanan hidup yang dapat memengaruhi perilaku konsumsi.(red/lis)
FOLLOW THE Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Rakyat-Indonesia.com | REFERENSI BERITA INDONESIA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram